Langsung ke konten utama

Al-Ghazali (Kemungkinan) Tidak Plagiat


Tulisan saya soal plagiasi al-Ghazali tempo hari yang lalu ternyata menjadi viral dan memunculkan beberapa respons, tetapi kajian yang lebih mendalam dalam bentuk tulisan, sampai hari ini, belum ada yang menggarap. Setelah tulisan saya itu terbit, saya diminta kawan untuk mengisi youtube-nya dengan mengangkat tema tersebut. Di sana kami diskusi dan kesimpulan yang kami dapat adalah berikut: (i) kita mesti melakukan studi filologis dengan perbandingan yang ketat dengan cara melacak naskah-naskah al-Risalah al-Laduniyyah-nya al-Ghazali dan juga naskah-naskah al-‘Ilm al-Laduni-nya Ibnu Sina, kemudian menentukan mana naskah yang paling tua dengan tujuan agar dari naskah yang paling tua itu kita dapat menentukan siapa pemilik risalah tersebut; (ii) jika opsi pertama tidak bisa terlaksana atau terhalang kendala teknis (naskah itu ada di beberapa tempat yang sangat jauh), maka opsi kedua adalah studi uslub atau gaya bahasa; (iii) jika opsi kedua juga tidak bisa dilaksanakan karena keterbatasan kemampuan dalam merasakan uslub (sebab kita bukan orang Arab), maka studi selanjutnya menginjak ke studi pemikiran.

Pada tulisan ini, tiga tawaran di atas akan coba saya gali:
(1) Sejauh ini, naskah risalah yang dinisbatkan (disandarkan) kepada al-Ghazali lebih banyak daripada naskah yang disandarkan kepada Ibnu Sina. Saya ambilkan satu contoh pengkaji yang sudah meneliti naskah itu. Abdurrahman Badawi, dalam bukunya Muallafat al-Ghazali menyatakan bahwa al-Risalah al-Laduniyyah (dengan judul yang berbeda-beda) termasuk karya al-Ghazali yang dapat dipastikan itu miliknya. Untuk lebih jelasnya, lihat gambar nomor 1 di atas. Risalah ini sudah diterbitkan dan ditahqiq oleh beberapa pengkaji, termasuk ditahqiq bersama risalah lainnya yang termuat dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali (diterbitkan oleh Maktabah Ashriyyah dan Maktabah Taufiqiyyah).
Sementara itu naskah risalah yang dinisbatkan kepada Ibnu Sina sejauh ini hanya tersedia di Maktabah Hamidiyyah, ditahqiq dan diterbitkan oleh Dr. Hasan Ashi. Untuk lebih jelasnya, lihat gambar nomor 2 di atas. Sejauh ini kita memang belum bisa memastikan tanggal dan tahun dari naskah-naskah di atas, mana yang lebih tua. Terutama kita belum bisa melacak kapan naskah risalah yang disandarkan kepada Ibnu Sina ditulis, karena Dr. Ashi tidak menyebutkannya dalam bukunya tersebut. Tetapi kendati demikian, dari banyaknya pengkaji yang sudah meneliti risalah itu, kebanyakan berkata bahwa itu merupakan risalah al-Ghazali. Hal ini akan teranulir ketika kita dapat menemukan (i) naskah lain yang disandarkan kepada Ibnu Sina selain dalam Maktabah Hamidiyyah dan (ii) pentranskipan naskah yang ada di maktabah itu lebih tua dari tahun lahirnya al-Ghazali.
(2) Mengenai uslub atau gaya bahasa atau pemilihan diksi, para pakar sepakat mengatakan bahwa al-Ghazali condong kepada uslub yang sederhana (basith) dan langsung, sementara Ibnu Sina condong kepada uslub yang rumit (ta’qid) dan kalimatnya bertingkat. Sepanjang pembacaan saya atas kitab-kitab kedua tokoh tersebut, yang saya temui dalam risalah yang tengah kita perdebatkan mengarah kepada uslub yang pertama, yakni sederhana dan langsung. Uslub dalam risalah itu relatif mudah dipahami. Agar lebih jelas, saya sertakan contoh perbandingan naskah risalah itu (saya pakai terbitan Maktabah Taufiqiyyah) soal keutamaan ilmu dan naskah Al-Ghazali dengan tema yang serupa dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din. Lihat gambar nomor 3 dan 4. Untuk perbandingan uslub Ibnu Sina, saya sertakan contoh perbandingan naskah dalam risalah itu (saya pakai tahqiqannya Dr. Ashi) soal penjelasan jiwa manusia dan naskah Ibnu Sina tentang masalah yang sama dalam kitab al-Syifa’. Untuk lebih jelasnya, lihat gambar nomor 5 dan 6. Satu hal lagi yang barangkali penting. Ibnu sina jarang sekali mengutip ayat maupun hadits dalam risalahnya, kecuali risalah yang membahas soal tafsir. Sementara itu hampir boleh dipastikan kita akan selalu menemukan kalam ulama, hadits, maupun Al-Quran yang bertebaran di sekujur kitab al-Ghazali. Berkenaan dengan risalah ini, kita akan mendapati kutipan yang amat banyak. Beberapa hadits yang disebutkan dalam risalah itu dapat kita temukan di kitab al-Ghazali yang lain (saya ambilkan dari kitab Ihya’). Untuk lebih jelasnya, lihat gambar nomor 7 dan 8 di bawah ini.
(3) Berkenaan dengan isi, ada dua hal yang perlu saya soroti. Pertama, soal nama-nama sufi yang disebutkan dalam risalah itu dan doktrin atau teori mengenai jiwa sebagai jauhar fard (substansi tunggal). Yang pertama, kita akan mendapati beberapa nama sufi di antaranya: Imam Qusyairi, Tsa’labi, al-Mawardi, dan al-Sulami. Dalam pada itu, hal yang ingin saya angkat soal nama-nama sufi ini adalah soal tahun hidup mereka. Qusyairi tidak diketahui tahun lahirnya, tapi diketahui tahun wafatnya, yakni 465 H. Begitu juga Tsa’labi, ia wafat tahun 427 H., dan al-Mawardi, yakni tahun 450 H. Sementara al-Sulami, ia lahir tahun 330 H. dan wafat tahun 412 H. Tokoh-tokoh yang telah disebutkan ini hidup pada masa yang sama dengan Ibnu Sina. Menurut catatan al-Jauzajani, Ibnu Sina lahir tahun 375 H. dan wafat tahun 428 H. Sementara itu menurut Ibnu Khalikan, Ibnu Sina lahir tahun 370 H. dan wafat pada tahun yang sama seperti yang disebut al-Jauzajani. Dari sini, mari kita berasumsi. Apakah nama-nama sufi ini terkenal di masa Ibnu Sina sehingga ia mendengar ajaran mereka dan kemudian menyebutkan nama mereka dalam risalahnya kemudian dijadikan rujukan untuk menentukan adanya ilmu laduni, yakni ilmu yang berdasarkan kepada ilham Tuhan? Secara teori, lebih masuk akal nama-nama itu masyhur di masa al-Ghazali (450-505), dengan alasan: (i) ada rentang waktu yang lumayan panjang di mana kitab-kitab yang dikarang oleh para sufi tersebut sampai kepada pembaca yang luas; dan (ii) al-Ghazali adalah pengkaji tasawuf yang ajarannya sangat dekat dengan ajaran nama-nama di atas, yakni mereka disatukan dalam payung yang dinamakan tasawuf amali. Tetapi asumsi ini dapat juga terbantah, mengingat bahwa Ibnu Sina sangat haus ilmu sehingga tidak menutup kemungkinan begitu ada kitab yang beredar di pasaran, ia akan segera membeli dan membacanya. Kisah dari muridnya Ibnu Sina, al-Jauzajini, dalam hal ini dapat menjadi acuan (lihat kisah lengkapnya dalam buku Tentang Cinta, Circa, 2021). Yang kedua, soal teori jiwa. Ibnu Sina selalu menyatakan bahwa jiwa bukan termasuk aksidensi (‘ardh) melainkan substansi (jauhar). Hanya saja ia tidak menyebutnya sebagai substansi tunggal (jauhar fard). Teori mengenai substansi tunggal ini justru dibantah oleh Ibnu Sina dan mayoritas filsuf. Teori mengenai substansi tunggal justru diafirmasi oleh para teolog, lebih khusus teolog Asy’arian, dan dalam hal ini al-Ghazali termasuk dalam tradisi teologi tersebut. Untuk membandingkannya, kita bisa merujuk ke teks yang ada dalam gambar nomor 9 dan 10. Teks dalam gambar nomor 9 diambil dari kitab al-Syifa-nya Ibnu Sina sementara teks dalam gambar nomor 10 diambil dari kitab Ihya’-nya al-Ghazali. Kedua teks ini silakan bandingkan dengan teks dalam gambar nomor 11, yaitu teks risalah ‘al-‘Ilm al-Laduni dalam tahqiqan Dr. Ashi dan teks dalam gambar nomor 12, yakni risalah al-Risalah al-Laduniyyah dalam Majmu’ah Rasail al-Imam al-Ghazali.
(4) Dari penjelasan di atas, kesimpulan sementara saya berbunyi bahwa risalah yang kita angkat ini lebih kuat disandarkan kepada al-Ghazali. Tetapi meskipun demikian, kita tak bisa memungkiri bahwa ada ajaran Ibnu Sina yang dipakai oleh al-Ghazali dalam risalah tersebut.

Penulis :

Sumber :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

QAIS MERAWAT CINTA GILA, DEMIKIANKAH KITA?

Ada satu kisah gila, yang diperankan oleh orang yang gila pula bernama Qais bin Mulawwih bin Muzahim bin 'Adas bin Rabi'ah bin Ja'dah bin Ka'b bin Rabi'ah. Orang-orang lebih senang menyebutnya "Majnun" yang artinya si gila. Adapun Layla -demikian nama yang paling riskan disebut dalam kegilaan- bernama lengkap Layla binti Mahdi bin Sa'd bin Ka'b bin Rabi'ah, makhluk paling dirawat pemujaannya oleh Majnun, manusia yang tidak pernah mencintai dengan sederhana. Kisah ini menjadi kisah cinta purba yang menginspirasi lahirnya cerita-cerita lain yang tak mau kalah dalam mencinta, sebut saja Romeo-Juliet. Bahkan datang dari sumber lokal, sebuah kisah berlatar belakang kapal menceritakan lika-liku drama tragis kedua tokohnya yang diberi nama Zainuddin-Hayati.  Kisah cinta Qais dan Layla memang tak pernah berakhir bahagia. Tetapi, bukan disitu uniknya. Pada saat derajat sosial memustahilkan kecintaannya, Qais tak pernah melawan takdir. Sejak ...

Tahapan Belajar Fikih Syafi'i

Yang selalu membuat kagum dari guru kami, Habib Abdullah bin Ahmad al-Jufri, beliau begitu tertata rapi dan detil ketika mengkaji ensiklopedia kitab fikih. Wawasannya yang begitu luas nan komprehensif, tak heran jika beberapa Masyayikh menjuluki beliau; "Ifrit"-nya fikih Syafi'i. Kala itu sempat bertanya, "Maulana, kitab apa yang perlu diprioritaskan dalam belajar ilmu fikih madzhab Syafi'i sesuai tahapannya? Serta bagaimana urutannya?" "Ikhlaskan niat Lillahi Ta'ala serta Habibina al-Musthafa..." prolognya. Lalu lanjut beliau, "sebagaimana yang diajarkan guru-guru kami di Hadhramaut, sebagai kitab pembuka adalah : 1) Al-Risalah Al-Jami'ah karya al-Habib Ahmad Alawi al-Habsyi (w. 1144 H). Sebagai pengantar memasuki bahasan fikih. 2) Lalu tanamkan dasar-dasar fikihnya dengan kitab Safinah al-Najah karya Syeikh Salim bin Abdullah bin Sumair. Untuk syarahnya beliau biasa menggunakan kitab Nailu al-Raja' karya al-Habib Ahmad bin Uma...

Seberapa Akurat Metode Barat?

Karena tak sengaja menemukan tulisan Berbahayakah Studi Islam di Barat? oleh Mas Annas Rolli Muchlisin, saya pun tergerak menuliskan kegelisahan ini. Bukan seputar topik utama tulisan itu yang punya kesan ingin mendamaikan beberapa penulis yang berseteru sebulan ini. Namun lebih kepada pembuktian, bahwa studi Islam di Barat yang dibangga-banggakan sebagai penelitian dengan metodologi objektif, sejatinya menyimpan cacat metodologis yang cukup fatal. Ketika menampilkan perbedaan antara menjadi agamawan dengan menjadi peneliti, Mas Annas menampilkan dua contoh hasil kajian barat terkait tafsir dan teologi yang dari alurnya seolah ingin mengatakan, “Inilah hasil kajian Barat. Sangat menarik dan objektif kan? Tanpa harus menjadi agamawan pun, metodologi Barat mampu menghasilkan kesimpulan kajian yang membawa kemajuan pengetahuan bukan?” Pertama , seputar tafsir, ia menulis: “Para peneliti tafsir di Barat menemukan bahwa tafsir al-Kasyaf karya al-Zamakhsyari (w. 1144 M) adalah tafsir yang...