Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2022

Hafalan dan Pemahaman Bergandengan Tangan, Mungkinkah?

Syaikh Ibrahim Khuli pernah mengatakan :  لا يفسر القرآن إلا من أوتي له البصيرة. والقرآن لا يكون إلا في قلبه ولسانه ووجدانه حتى يصبح القرآن أية واحدة "Tidak akan menafsiri Alquran kecuali orang yang telah diberi bashirah oleh Allah. Alquran telah berada dalam lisan dan sanubarinya seakan-akan keseluruhan Alquran (dalam mata batin sang mufassir tersebut) hanya seperti satu ayat." Imam Fakhruddin al-Razi mengatakan :  الفَهْمُ غَيرُ الحِفظِ، والحُكَماءُ يَقولونَ: إنَّهما لا يَجتَمِعان، على سَبيلِ الكَمالِ؛ لِأنَّ الفَهْمَ يَستَدعي مَزيدَ رُطوبةٍ في الدِّماغِ، والحِفظَ يَستَدعي مَزيدَ يُبوسةٍ، والجَمعُ بَينَهما مُـحالٌ "Pemahaman itu bukan hafalan. Para filsuf mengatakan keduanya tidak akan menyatu secara sempurna. Sebab pemahaman memerlukan unsur lembab dalam otak dan hafalan memerlukan unsur yang kering dalam otak. Menggabungkan keduanya (secara sempurna) adalah mustahil." Saya pernah bertanya ke syaikh Husam, apakah ketika seseorang menghafal kitab-kitab...

Habib Muhammad Quraish Shihab dan Biografi Singkat Beliau (Seri Biografi Muhammad Quraish Shihab Part 3 -Selesai-)

Setidaknya ada 3 fase kehidupan yang ditempuh oleh Habib MQS. Fase Pertama :  Pemupukan nilai Alquran oleh ayahanda beliau. Sayyidi Habib MQS sejak umur 6 tahun sudah diikutkan oleh ayah beliau untuk mengikuti kajian tafsirnya. Di umur 10 tahun, kecintaannya terhadap Alquran, khususnya dalam bidang Tafsir sudah melekat dalam hati beliau. Setelah itu, beliau nyantri ke Dar al-Hadist, Malang. Di sana, beliau menemukan guru yang mampu membangun akal dan hati beliau. Syaikh yang futuh, Habib Abdul Qadir Balfaqih. Beliau senantiasa menyanjungnya, bahkan mengatakan bahwa nyantri 2 tahun di Malang lebih membekas dibanding 12 tahun di Mesir. Kenapa? Beliau menjawab: ikhlas. "Kiai-kiai di pesantren itu ikhlas-ikhlas." Ungkap beliau. "Itulah hubungan Jiwa", tambah beliau. Memang beliau sendiri rutin memberi hadiah fatihah kepada guru-guru beliau.  Fase Kedua :  Perjalanan keilmuan di al-Azhar.  هذا هو الأزهر الشريف كعبتنا ● من لم يطف حوله فعلمه بطلا "Inilah ...

Habib Muhammad Quraish Shihab dan Memperdalam Bahasa (Seri Biografi Muhammad Quraish Shihab Part 2)

Setiap menulis surat, ayahanda Habib MQS selalu menutup dengan dua pesan: 1. Bergaullah dengan orang-orang yang engkau mendapatkan ilmu dan manfaat darinya 2. Gunakanlah kesempatan sebanyak mungkin untuk memperdalam bahasa, karena bahasa itu kunci pengetahuan. Mari kita membahas nasehat yang kedua itu; memperdalam bahasa. Pesan itu layaknya sebuah "matan" yang mesti harus disyarah bahkan dihasyiahi.  Redaksi "sebanyak mungkin untuk memperdalam bahasa" adalah sebuah isyarat akan pentingnya menyamudera dalam mempelajari bahasa, khususnya bahasa Arab. Apalagi pesan itu diulang-ulang saban-saban beliau dikirimi surat. Syaikh Ibrahim Khuli mengatakan bahwa 'Takrar' (pengulangan) dalam Alquran tidak terjadi kecuali sebagai penguat dan hal yang menunjukkan keagungan sesuatu yang diperintahkan agar melekat dengan erat. Misalkan pengulangan di : يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ    "Mengapa diulang-ulang?! Kerena hal itu...

Habib Muhammad Quraish Shihab dan Kritis Dalam Membaca (Seri Biografi Muhammad Quraish Shihab Part 1)

"Kapan saja ada waktu, saya membaca. Di mana saja ada tempat, saya menulis. Di Kantor, di pesawat, dan lain-lain." Ungkap singkat Habib MQS mengenai keseharian beliau. "Setelah subuh, saya membaca wiridan sepuluh menit. Setelah itu saya membuat teh (yang kelak menemani beliau dalam menulis). Setelah itu saya menulis sampai jam 8." Saya mengajukan pertanyaaan kepada beliau; bagaimana seorang Habib MQS berinteraksi dengan kitab tafsir, baik itu dari sunni maupun syiah, baik itu kitab tafsir level pemula, level menengah dan level tinggi. Bagaimana beliau berinteraksi dengan kitab-kitab tafsir selama '60 tahun'?  Beliau menjawab : "Pertama: pilih-pilihlah buku yang Anda baca. Karena terlalu banyak buku itu. Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah pengarang. Anda ingin belajar tafsir, tapi yang ngarang bukan pakar di bidang tafsir." "Jangan pernah menilai kebenaran dari orang. Tapi nilailah kebenaran dari ide. Saya mau beri contoh ...

QAIS MERAWAT CINTA GILA, DEMIKIANKAH KITA?

Ada satu kisah gila, yang diperankan oleh orang yang gila pula bernama Qais bin Mulawwih bin Muzahim bin 'Adas bin Rabi'ah bin Ja'dah bin Ka'b bin Rabi'ah. Orang-orang lebih senang menyebutnya "Majnun" yang artinya si gila. Adapun Layla -demikian nama yang paling riskan disebut dalam kegilaan- bernama lengkap Layla binti Mahdi bin Sa'd bin Ka'b bin Rabi'ah, makhluk paling dirawat pemujaannya oleh Majnun, manusia yang tidak pernah mencintai dengan sederhana. Kisah ini menjadi kisah cinta purba yang menginspirasi lahirnya cerita-cerita lain yang tak mau kalah dalam mencinta, sebut saja Romeo-Juliet. Bahkan datang dari sumber lokal, sebuah kisah berlatar belakang kapal menceritakan lika-liku drama tragis kedua tokohnya yang diberi nama Zainuddin-Hayati.  Kisah cinta Qais dan Layla memang tak pernah berakhir bahagia. Tetapi, bukan disitu uniknya. Pada saat derajat sosial memustahilkan kecintaannya, Qais tak pernah melawan takdir. Sejak ...