Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2021

Tahapan Belajar Fikih Syafi'i

Yang selalu membuat kagum dari guru kami, Habib Abdullah bin Ahmad al-Jufri, beliau begitu tertata rapi dan detil ketika mengkaji ensiklopedia kitab fikih. Wawasannya yang begitu luas nan komprehensif, tak heran jika beberapa Masyayikh menjuluki beliau; "Ifrit"-nya fikih Syafi'i. Kala itu sempat bertanya, "Maulana, kitab apa yang perlu diprioritaskan dalam belajar ilmu fikih madzhab Syafi'i sesuai tahapannya? Serta bagaimana urutannya?" "Ikhlaskan niat Lillahi Ta'ala serta Habibina al-Musthafa..." prolognya. Lalu lanjut beliau, "sebagaimana yang diajarkan guru-guru kami di Hadhramaut, sebagai kitab pembuka adalah : 1) Al-Risalah Al-Jami'ah karya al-Habib Ahmad Alawi al-Habsyi (w. 1144 H). Sebagai pengantar memasuki bahasan fikih. 2) Lalu tanamkan dasar-dasar fikihnya dengan kitab Safinah al-Najah karya Syeikh Salim bin Abdullah bin Sumair. Untuk syarahnya beliau biasa menggunakan kitab Nailu al-Raja' karya al-Habib Ahmad bin Uma...

Kapan Kiamat?

Tidak ada yang tau kapan kiamat akan terjadi. Hanya Allah yang tau kapan persisnya. Namun ada sebagian ulama yang mencoba memprediksi kapan kiamat itu akan terjadi. Dialah imam Suyuthi. Dulu di zaman beliau, karena ada sebuah hadits palsu, tersebarlah di kalangan awam bahwa kiamat akan terjadi sebelum tahun 1000 hijriah. Di saat itu adalah tahun 898 hijriah, yang mana kalau isu itu benar maka hanya tersisa 102 tahun lagi menjelang bumi ini hancur lebur. Hal itu cukup membuat gaduh. Maka imam Suyuthi menulis sebuah risalah tentang hal itu dan beliau jelaskan bahwa umur bumi ini pasti akan melampaui tahun 1000 hijriah. Itulah kesimpulan yang beliau peroleh dari berbagai riwayat yang ada. Dan memang kenyataannya tidak terjadi apa-apa di tahun 1000 hijriah. Tapi uniknya, di samping membantah isu kiamat tersebut, beliau juga menegaskan bahwa umur bumi ini tidak akan melampaui tahun 1500 hijriah. “Tidak mungkin sama sekali umur bumi sampai 1500 tahun (semenjak masa nabi)” kata beliau. Sekara...

Mentauhidkan Allah = Mengesakan Allah?

Dalam keadaan seriuskah saya membuat judul di atas? Ya.....bila yang dimaksud dari “mengesakan Allah” adalah “menjadikan-Nya esa” (جعلته واحدا). Hal ini perlu dipertanyakan kembali, apakah benar bahwa makna tauhid adalah menjadikan-Nya esa? karena bila begitu, apakah sebelum kita mengesakan-Nya, Allah belum esa sehingga baru menjadi esa ketika kita esakan? atau apakah Allah butuh dijadikan esa sementara kita tau bahwa ia selalu esa tanpa kita esakan? Banyak sekali dari kita yang menerjemahkan kata “tauhid” menjadi “mengesakan”, tetapi apa sebetulnya yang dimaksud dengan “mengesakan” itu sendiri? Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa disini saya tidak sedang ingin menyalahkan terjemahan kata “tauhid” menjadi “mengesakan”, tidak. Saya hanya ingin berdiskusi dan mengajak kita berpikir kembali apa yang dimaksud dengan “mengesakan”. Setidaknya, ada dua makna yang bisa saya tangkap dari kata “mengesakan” : 1. Menjadikan sesuatu yang jamak menjadi satu (tunggal). 2. Menganggap atau mengakui b...

Filosofi Al-Burhan: Burhan Sebagai Metodologi

Al-Bayan adalah nama bagi konsep yang berurusan dengan konsep. Konsep ditampung oleh kata atau nama, dan bayan atau penjelasan atas nama atau kata itu menjadikan makna kata menjadi mapan. “Keterpahaman” adalah tujuan awalnya, dan “kejernihan” adalah tujuan selanjutnya. Melalui bayan, kata menjadi penampung konsep yang paling kokoh. Kata menjadi terpahami dan terjenihkan dari, -dalam bahasa Al-Ghazali- "wilayah isykal (samar)". Kesamaran adalah lawan dari kejelasan. Al-Syafi’i mengawali kitab al-Risalah-nya dengan konsep al-bayan. Konsep ini berdasarkan pada atribusi Al-Quran atas dirinya sendiri sebagai bayan, penjelasan. Suatu penjelasan dapat dipahami paling tidak oleh orang-orang yang mana Al-Quran turun kepada mereka, atau kepada mereka yang paham bahasa Al-Quran. Suatu penjelasan atas sesuatu, dalam logika, disebut dengan "definisi". Definisi merupakan pembatasan atas sesuatu melalui pernyataan atau proposisi atau statemen. Menyatakan hewan yang berpikir berart...

Logika Teror

Dari lima penjagaan primer yaitu penjagaan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta, mana yang memiliki eksistensi rill? Atau lebih khusus: dari kelima hal itu, mana yang merupakan manusia itu sendiri? Pertanyaan ini harus diajukan sehubungan dengan ontologi teror yang bakal membantu kita untuk menentukan logika teror.  Pertanyaan pertama dapat dijawab dengan mengandaikan suatu keadaan darurat, suatu keadaan yang berada diambang hidup dan mati. Maka ketika pertanyaan itu dilontarkan berdasarkan asumsi keadaan darurat, jawabannya tidak lain: jiwa, atau kehidupan itu sendiri. Agama adalah komunitas terbayang, ia tidak memiliki entitas riil. Akal, keturunan, dan harta adalah bagian dari manusia yang strata keterjagaannya bisa berubah tergantung situasi. Namun jiwa adalah penopang. Jiwa adalah kehidupan itu sendiri yang memungkinkan adanya agama, akal, keturunan, dan harta. Tanpa jiwa, bagaimana mungkin keempatnya bisa dijaga?  Pertanyaan kedua sebenarnya sudah terjawab melalui per...

Optimisme dan Kegentaran di Hadapan Kehendak Tuhan

Dalam ‘Asrar-e Khudi’, Muhammad Iqbal menuliskan : Kau ciptakan malam, tapi kubuat lampu Kau ciptakan lempung, tapi kubentuk cupu Kau ciptakan gurun, hutan dan gunung Kuhasilkan taman, sawah dan kebun Di sini tampak begitu optimisnya manusia-Iqbal. Filsafat Iqbal sering disebut sebagai filsafat ego, atau subjek, atau Dzat. Jangkar yang dilemparkan untuk menambatkan prinsip-prinsip hidup agar tidak terombang-ambing adalah manusia itu sendiri. Tetapi bukan berarti Tuhan itu telah mati (Gott ist tot). Tuhan punya ranahnya sendiri, manusia punya ranahnya sendiri. Tuhan menciptakan sejarah, manusia yang menuliskannya dengan dawat. Tuhan menciptakan alam, manusia merumuskan hukum fisika. Pendek kata: tuhan adalah pelaku, kita juga pelaku. Jika menyinggung perihal siapa pelaku siapa tidak, kita akan merujuk pada disiplin tasawuf yang mengatakan bahwa pelaku yang hakiki adalah Tuhan. Penyematan kata pelaku (al-fail) untuk manusia hanya bermaknya majazi. Entah betul-betul bermakna majazi atau t...

Seni Menggambar(kan) Nabi dengan Benar

Syekh Abdullah Diraz, ulama yang dijuluki filsuf Al-Quran, penulis buku fenomenal Dustur al-Akhlaq fi Al-Qur’an , menulis buku berjudul al-Din . Hal yang menarik dari buku tersebut dan harus selalu diulang dalam konteks arus pemikiran Islam adalah soal perspektif dalam memandang agama. Agama dipelajari oleh dan dari berbagai sisi keilmuan: antropologi, sosiologi, psikologi, filsafat, dan seterusnya. Tetapi lantaran maraknya perangkat analisis itu, agama lupa dikaji berdasarkan agama itu sendiri. Maka tidak mengherankan agama yang dipelajari berdasarkan perangkat eksternalnya itu akan menghasilkan kajian yang terkadang melenceng dari isi agama itu sendiri: agama adalah candu (Marx), agama adalah delusi berjamaah (Freud), dan agama adalah proyeksi masyarakat (Durkhem). Syekh Diraz tidak menampik pentingnya kajian eksternal terhadap agama, karena agama tidak lahir dari ruang hampa. Tetapi Syekh Diraz mewanti-wanti bahayanya kajian-kajian tersebut bagi eksistensi agama itu sendiri. Oleh se...

Dakwah Itu Mempengaruhi, Bukan Memaksa !

Filosofi ayat tidak ada paksaan dalam beragama dapat dijelaskan lewat konsep keterpengaruhan menurut Ibnu Sina, sebagaimana yang tertuang dalam risalah Tentang Cinta . Seseorang tak bisa memaksakan ide, konsep, maupun gagasan kepada orang lain jika hal itu tidak disertai dengan keterpengaruhan. Dari sini kiranya perlu membahas hakikat pengaruh sebelum menginjak ke persoalan di atas. Memakai analisis Ibnu Sina, pengaruh adalah suatu keadaan di mana objek yang terpengaruh berada dalam posisi pasif. Caranya adalah dengan meletakkan arketipe, baik dari luar maupun dari dalam diri sang objek. Di tataran hukum semesta, Ibnu Sina mencontohkan pengaruh dari matahari terhadap objek semisal baju. Matahari tidak punya daya untuk mempengaruhi baju jika tidak ada arketipe yang dapat diterima oleh baju. Arketipe itu berupa cahaya. Melalui cahaya, matahari dapat memberi pengaruhnya kepada baju sehingga baju dapat menjadi kering akibat terkena cahaya tersebut. Artinya, selain matahari aktif dalam me...

Al-Ghazali (Kemungkinan) Tidak Plagiat

Tulisan saya soal plagiasi al-Ghazali tempo hari yang lalu ternyata menjadi viral dan memunculkan beberapa respons, tetapi kajian yang lebih mendalam dalam bentuk tulisan, sampai hari ini, belum ada yang menggarap. Setelah tulisan saya itu terbit, saya diminta kawan untuk mengisi youtube-nya dengan mengangkat tema tersebut. Di sana kami diskusi dan kesimpulan yang kami dapat adalah berikut: (i) kita mesti melakukan studi filologis dengan perbandingan yang ketat dengan cara melacak naskah-naskah al-Risalah al-Laduniyyah -nya al-Ghazali dan juga naskah-naskah al-‘Ilm al-Laduni -nya Ibnu Sina, kemudian menentukan mana naskah yang paling tua dengan tujuan agar dari naskah yang paling tua itu kita dapat menentukan siapa pemilik risalah tersebut; (ii) jika opsi pertama tidak bisa terlaksana atau terhalang kendala teknis (naskah itu ada di beberapa tempat yang sangat jauh), maka opsi kedua adalah studi uslub atau gaya bahasa; (iii) jika opsi kedua juga tidak bisa dilaksanakan karena keterbata...

Al-Ghazali Plagiat?

Kisah tentang kejeniusan al-Ghazali sudah masyhur di antara para pengkaji pemikirannya. Pada masa belianya, ada cerita di mana al-Ghazali dirampok oleh begal dan kitab-kitabnya diambil. Ia disindir oleh begal itu karena ketika itu ilmunya hanya berada dalam buku (sutur) bukan di dalam hati (sudur). Setelah kejadian itu al-Ghazali mengubah metode belajarnya dari membaca saja menuju ke menghapal dan memahami. Kisah itulah yang kadang menuntun saya dalam mencari alasan kenapa sebagian kitab al-Ghazali adalah salinan dari kitab filsuf atau ilmuan sebelum dirinya. Setidaknya ada tiga kitab yang sementara ini saya ketahui mengandung unsur "salinan" itu. Pertama, al-Munqidz min al-Dhalal . Kedua, Ma’arij al-Qudsi . Ketiga, al-Risalah al-Laduniyyah . Dalam ketiga kitab ini terdapat berbagai macam kadar atau tingkatan (level) penyalinan, dari yang sekadar meminjam metode penulisan, sampai betul-betul terindikasi plagiat. Syekh Abdul Halim Mahmud dalam kitabnya Qadhiyyah al-Tashawwuf a...