Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Biografi

Tafsir Ibnu Majah

Mungkin selama ini ketika mendengar nama Ibnu Majah , maka yang ada di benak kita adalah seorang muhaddits yang menulis kitab hadits bertipe sunan yang kemudian akrab dikenal dengan sebutan Sunan Ibnu Majah . Namun, salah satu fakta lain tentang Imam Ibnu Majah yang mungkin jarang diketahui adalah bahwa banyak para ulama terdahulu yang juga mengenalkan beliau sebagai seorang mufassir besar dan pernah menulis kitab tafsir. Hal ini dibuktikan oleh kesaksian para ulama yang menyatakan demikian, diantaranya : محمدُ ‌بنُ ‌يزيدَ ‌ابن ‌ماجَة الحافظُ الكبيرُ المفسِّر، أبو عبد اللَّه القَزْويني، صاحب "السنن" و "التفسير" و"التاريخ"¹ "Muhammad bin Yazid bin Majah adalah seorang hafizh terkemuka, mufassir (ahli tafsir), nama kunyahnya adalah Abu Abdillah al-Qazwini, pemilik kitab sunan (hadits), tafsir, dan tarikh (sejarah)" [Muhammad bin Abdul Hadi, Thabaqat Ulama' al-Hadits, 2/341] وله كتاب في «التفسير»، وكتاب «السنن»، وكتاب «التاريخ» إلى عصره² ...

Habib Muhammad Quraish Shihab dan Biografi Singkat Beliau (Seri Biografi Muhammad Quraish Shihab Part 3 -Selesai-)

Setidaknya ada 3 fase kehidupan yang ditempuh oleh Habib MQS. Fase Pertama :  Pemupukan nilai Alquran oleh ayahanda beliau. Sayyidi Habib MQS sejak umur 6 tahun sudah diikutkan oleh ayah beliau untuk mengikuti kajian tafsirnya. Di umur 10 tahun, kecintaannya terhadap Alquran, khususnya dalam bidang Tafsir sudah melekat dalam hati beliau. Setelah itu, beliau nyantri ke Dar al-Hadist, Malang. Di sana, beliau menemukan guru yang mampu membangun akal dan hati beliau. Syaikh yang futuh, Habib Abdul Qadir Balfaqih. Beliau senantiasa menyanjungnya, bahkan mengatakan bahwa nyantri 2 tahun di Malang lebih membekas dibanding 12 tahun di Mesir. Kenapa? Beliau menjawab: ikhlas. "Kiai-kiai di pesantren itu ikhlas-ikhlas." Ungkap beliau. "Itulah hubungan Jiwa", tambah beliau. Memang beliau sendiri rutin memberi hadiah fatihah kepada guru-guru beliau.  Fase Kedua :  Perjalanan keilmuan di al-Azhar.  هذا هو الأزهر الشريف كعبتنا ● من لم يطف حوله فعلمه بطلا "Inilah ...

Habib Muhammad Quraish Shihab dan Memperdalam Bahasa (Seri Biografi Muhammad Quraish Shihab Part 2)

Setiap menulis surat, ayahanda Habib MQS selalu menutup dengan dua pesan: 1. Bergaullah dengan orang-orang yang engkau mendapatkan ilmu dan manfaat darinya 2. Gunakanlah kesempatan sebanyak mungkin untuk memperdalam bahasa, karena bahasa itu kunci pengetahuan. Mari kita membahas nasehat yang kedua itu; memperdalam bahasa. Pesan itu layaknya sebuah "matan" yang mesti harus disyarah bahkan dihasyiahi.  Redaksi "sebanyak mungkin untuk memperdalam bahasa" adalah sebuah isyarat akan pentingnya menyamudera dalam mempelajari bahasa, khususnya bahasa Arab. Apalagi pesan itu diulang-ulang saban-saban beliau dikirimi surat. Syaikh Ibrahim Khuli mengatakan bahwa 'Takrar' (pengulangan) dalam Alquran tidak terjadi kecuali sebagai penguat dan hal yang menunjukkan keagungan sesuatu yang diperintahkan agar melekat dengan erat. Misalkan pengulangan di : يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ    "Mengapa diulang-ulang?! Kerena hal itu...

Habib Muhammad Quraish Shihab dan Kritis Dalam Membaca (Seri Biografi Muhammad Quraish Shihab Part 1)

"Kapan saja ada waktu, saya membaca. Di mana saja ada tempat, saya menulis. Di Kantor, di pesawat, dan lain-lain." Ungkap singkat Habib MQS mengenai keseharian beliau. "Setelah subuh, saya membaca wiridan sepuluh menit. Setelah itu saya membuat teh (yang kelak menemani beliau dalam menulis). Setelah itu saya menulis sampai jam 8." Saya mengajukan pertanyaaan kepada beliau; bagaimana seorang Habib MQS berinteraksi dengan kitab tafsir, baik itu dari sunni maupun syiah, baik itu kitab tafsir level pemula, level menengah dan level tinggi. Bagaimana beliau berinteraksi dengan kitab-kitab tafsir selama '60 tahun'?  Beliau menjawab : "Pertama: pilih-pilihlah buku yang Anda baca. Karena terlalu banyak buku itu. Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah pengarang. Anda ingin belajar tafsir, tapi yang ngarang bukan pakar di bidang tafsir." "Jangan pernah menilai kebenaran dari orang. Tapi nilailah kebenaran dari ide. Saya mau beri contoh ...

Mengenang Pengarang Kitab Al-Akhlaq Lil Banin Wa Al-Banat

    Syaikh Umar bin Achmad Baradja lahir di kampung Ampel Maghfur pada tanggal 10 Jumadil Akhir 1331 H/17 Mei 1913 M. Sejak kecil dia diasuh dan dididik kakek dari ibunya, Syaikh Hasan bin Muhammad Baradja, seorang ulama ahli nahwu dan fiqih. Nasab Baradja berasal dari (dan berpusat di) Seiwun, Hadramaut, Yaman. Seperti nama nenek moyangnya yang ke-18, Syaikh Sa’ad juga memiliki laqab Abi Raja’ (yang selalu berharap). Mata rantai keturunan tersebut bertemu pada kakek Nabi Muhammad SAW yang kelima yaitu Kilab bin Murrah. Pada masa mudanya, Umar Baradja menuntut ilmu agama dan bahasa Arab dengan tekun, sehingga dia mampu menguasai dan memahaminya. Berbagai ilmu agama dan bahasa Arab dia dapatkan dari berbagai ulama, ustadz, syaikh, baik melalui pertemuan langsung maupun melalui surat. Para alim ulama dan orang-orang shalih telah menyaksikan ketaqwaan dan kedudukannya sebagai ulama yang ‘amil (ulama yang mengamalkan ilmunya). Dia adalah salah satu alumni terba...