Langsung ke konten utama

Postingan

Memahami atau Menghafal?

Para pengamat pendidikan modern seringkali menyampaikan, bahwa di masa mendatang, kompetensi menghafal sudah tidak lagi diperlukan. Gagasan ini juga seringkali diungkapkan oleh Mendikbud Indonesia, Nadiem Makarim. Menurutnya, tantangan masa depan memiliki kompleksitas yang sangat tinggi, sehingga dibutuhkan kemampuan selain menghafal, yakni kemampuan memahami konsep bacaan (literasi) dan kemampuan numerasi, (mengaplikasikan konsep hitungan di dalam suatu kompleks yang abstrak atau nyata). Syaikh Ibnu Abdil Barr, seorang ulama besar Islam dari Spanyol, dalam kitabnya, Jami’ al-Bayan al-Ilm (jilid 2, hlm. 1020), mengatakan bahwa, “Pandangan mainstream mayoritas ulama Islam adalah; menganggap tercela memperbanyak menghafal hadits tanpa memahami dan mentadaburi makananya”. Masih di halaman yang sama, beliau amat menyayangkan fenomena di zaman beliau di mana banyak orang yang suka menghafal banyak hadits, namun tidak diiringi dengan pemahaman akan maknanya. Lebih jauh lagi, syaikh Yusuf a...

Seberapa Akurat Metode Barat?

Karena tak sengaja menemukan tulisan Berbahayakah Studi Islam di Barat? oleh Mas Annas Rolli Muchlisin, saya pun tergerak menuliskan kegelisahan ini. Bukan seputar topik utama tulisan itu yang punya kesan ingin mendamaikan beberapa penulis yang berseteru sebulan ini. Namun lebih kepada pembuktian, bahwa studi Islam di Barat yang dibangga-banggakan sebagai penelitian dengan metodologi objektif, sejatinya menyimpan cacat metodologis yang cukup fatal. Ketika menampilkan perbedaan antara menjadi agamawan dengan menjadi peneliti, Mas Annas menampilkan dua contoh hasil kajian barat terkait tafsir dan teologi yang dari alurnya seolah ingin mengatakan, “Inilah hasil kajian Barat. Sangat menarik dan objektif kan? Tanpa harus menjadi agamawan pun, metodologi Barat mampu menghasilkan kesimpulan kajian yang membawa kemajuan pengetahuan bukan?” Pertama , seputar tafsir, ia menulis: “Para peneliti tafsir di Barat menemukan bahwa tafsir al-Kasyaf karya al-Zamakhsyari (w. 1144 M) adalah tafsir yang...

Jenis-Jenis Format Kamus Bahasa Arab

Sebelum membahas tentang berbagai format kamus bahasa Arab, perlu diketahui dulu bahwa ilmu yang mempelajari tentang pengumpulan kosakata beserta makna-maknanya ke dalam satu buku khusus yang tersusun dengan sistematika tertentu, ilmu semacam ini disebut dengan “Leksikografi”. Adapun ilmu yang khusus mengkaji tentang kosakata dan maknanya saja disebut “Leksikologi”. Leksikografi dan Leksikologi adalah dua ilmu yang sangat berhubungan erat. Perbedaannya hanya terletak pada Leksikologi sebagai ilmu yang termasuk dalam kajian linguistik teoritis sedangkan Leksikografi (ilm al-shina’ah al-mu’jamiyyah) termasuk dalam kajian linguistik praktis atau terapan, artinya adalah berfokus pada pengamatan langsung terhadap susunan kamus-kamus kebahasaan. Meskipun berbeda, kedua ilmu ini tidak bisa dipisahkan. Leksikologi tanpa Leksikografi hanya akan menghasilkan pembahasan-pembahasan teoritis belaka mengenai makna-makna kata tanpa bisa menghasilkan produk nyata berupa kamus-kamus berkualitas yang me...

Metode Pengujian Keilmuan Seseorang

Untuk menguji malakah keilmuan seseorang, kita dapat menggunakan beberapa metode : Pengujian Hafalan 1. Kitabah Tuliskanlah apa yang telah dihafal. 2. Istisyhad Carikanlah dari apa yang telah dihafal sebagai dalil bagi permasalahan "ini". Pengujian Pemahaman 1. Munaqasyah Diskusikan dan debatlah apa yang telah dipahami dari hal "ini". 2. Ta'lil Jelaskanlah illat atas apa yang telah dipahami dari hal "ini". 3. Syarh Jelaskanlah apa yang telah dipahami dari hal "ini". 4. Taufiq Kompromikanlah apa yang telah dipahami dari dua hal yang nampak berkontradiksi "ini". Disarikan dari tulisan Syaikh Konate Sidi Faozi di laman facebooknya. Penulis : Muhammad Adib Sumber : https://www.facebook.com/100000708494197/posts/pfbid0YwiMRE5dbWrdELkaGpRwvQ5q1PiFrTygUkUb4cjacypCkmGYKdxS9j4tC3pAtPTZl/?mibextid=Nif5oz

Kemunculan Istilah "Ulumul Qur'an"

Istilah Ulumul Qur'an tidak pernah dikenalkan oleh para ulama di dalam judul-judul kitab mereka sebelum masa tadwin (pembukuan). Istilah ini baru muncul sekitar di akhir abad ke-3 H atau awal abad ke-4 H. Orang pertama yang mengenalkan istilah Ulumul Qur'an adalah Muhammad bin Khalaf bin al-Marzaban (w. 309 H) dengan kitabnya yang berjudul al-Hawi fi Ulum Al-Qur'an . Sebagian peneliti berpendapat bahwa istilah Ulumul Qur'an pertama kali muncul pada awal abad ke-5 H. Orang pertama yang mengenalkan istilah tersebut adalah Ali bin Ibrahim al-Hufi (w. 430 H) lewat kitabnya yang berjudul al-Burhan fi Ulum Al-Qur'an . Menurut Fahd al-Rumi, pendapat kedua ini tidak benar. Karena sebetulnya judul kitab al-Hufi adalah al-Burhan fi Tafsir Al-Qur'an , bukan al-Burhan fi Ulum Al-Qur'an , sehingga tidak sah bila dikatakan bahwa al-Hufi adalah orang pertama yang memperkenalkan istilah ini. Referensi : Fahd bin Abdurrahman bin Sulaiman al-Rumi, Dirasat fi Ulum Al-Qur'...

Eksistensi Ijma' Tafsir

Di dalam ilmu fiqh, ketika melihat banyak terjadi ijma' di sana, maka para ulama langsung memberikan perhatiannya dengan menulis kitab yang mengumpulkan ijma'-ijma' tersebut dalam satu kitab tersendiri. Hal ini berbeda di dalam bidang tafsir. Para ulama tafsir tidak terlalu memberikan perhatian untuk mengumpulkan ijma'-ijma' dalam menafsirkan Al-Qur'an di satu kitab khusus dan tersendiri seperti di dalam ilmu fiqh. Hal ini bukan berarti para ulama tafsir tidak menganggap penting tentang hal ini. Dapat kita temukan beberapa mufassir yang menyebutkan ijma'-ijma' penafsiran para ulama terhadap sebagian makna ayat Al-Qur'an, namun itu semua disebutkan sebagai bagian dari pengayaan tafsir mereka dan tidak dipisahkan atau dibahas dalam suatu kitab khusus tersendiri yang membahas tentang semua ijma' dalam penafsiran Al-Qur'an. Mengapa begitu? Hal ini dikarenakan karena ijma' di dalam tafsir terbagi menjadi dua : 1. Ijma' di dalam lafadz (red...

Nama Lain Tafsir Tahlili

Syaikh Nuruddin Itr lebih memilih penggunaan istilah tafsir manhaji ketimbang tafsir tahlili meskipun dalam catatan kaki beliau menyampaikan kalau kedua istilah tersebut berbeda karena tafsir tahlili itu sifatnya lebih rinci dan lebih mendalam dari tafsir manhaji.¹ Namun, bila diperhatikan, definisi atau penggambaran tentang konsep tafsir manhaji yang dimaksud hampir tidak ada perbedaan dengan konsep dasar tafsir tahlili, which is (yang mana) sama-sama membagi pembahasan ayat-ayat Al-Qur'an menjadi beberapa aspek pembahasan seperti sebab turunnya ayat (asbab al-nuzul), hubungan ayat dengan ayat lain (munasabah), kosakata ayat (al-mufradat al-lughawiyyah), gramatikal ayat (i'rab), nilai sastra ayat (balaghah), dan lain sebagainya.  Karena pembahasan yang bercabang-cabang dan terbagi-bagi ini lah yang membuat Muhammad Baqir al-Shadr juga menggunakan istilah lain yaitu "tafsir tajzi'i", bukan "tafsir tahlili". Footnote : ¹ Nuruddin Itr, Ulum Al-Qur'an...

Tafsir Ibnu Majah

Mungkin selama ini ketika mendengar nama Ibnu Majah , maka yang ada di benak kita adalah seorang muhaddits yang menulis kitab hadits bertipe sunan yang kemudian akrab dikenal dengan sebutan Sunan Ibnu Majah . Namun, salah satu fakta lain tentang Imam Ibnu Majah yang mungkin jarang diketahui adalah bahwa banyak para ulama terdahulu yang juga mengenalkan beliau sebagai seorang mufassir besar dan pernah menulis kitab tafsir. Hal ini dibuktikan oleh kesaksian para ulama yang menyatakan demikian, diantaranya : محمدُ ‌بنُ ‌يزيدَ ‌ابن ‌ماجَة الحافظُ الكبيرُ المفسِّر، أبو عبد اللَّه القَزْويني، صاحب "السنن" و "التفسير" و"التاريخ"¹ "Muhammad bin Yazid bin Majah adalah seorang hafizh terkemuka, mufassir (ahli tafsir), nama kunyahnya adalah Abu Abdillah al-Qazwini, pemilik kitab sunan (hadits), tafsir, dan tarikh (sejarah)" [Muhammad bin Abdul Hadi, Thabaqat Ulama' al-Hadits, 2/341] وله كتاب في «التفسير»، وكتاب «السنن»، وكتاب «التاريخ» إلى عصره² ...

10.000 Hour Rule to be Extraordinary People

Berapa jam waktu latihan yang dibutuhkan untuk seorang pesepakbola agar bisa mendapatkan skill dribling yang baik, akurasi passing yang tinggi, dan kemampuan shooting yang terukur ?  Berapa jam waktu belajar yang dibutuhkan oleh seorang ahli kimia untuk menguasai teori-teori dalam ilmu kimia ? Setidaknya, menurut penelitian Anders Ericsson, kita butuh 10.000 jam untuk menjadi seorang expert atau extra ordinary di satu atau beberapa bidang keilmuan. Hal ini sebagaimana yang dikutip oleh Malcolm Gladwells dalam "Outliers: The Story of Success" yang cukup menyita perhatian. Bila kita coba buat kalkulasi ideal tentang berapa tahun kita bisa mencapai 10.000 jam ini, maka mungkin bisa diandaikan dengan pernyataan di bawah ini. • Diketahui : Seseorang mengalokasikan waktunya setiap hari untuk belajar atau berlatih sesuatu selama 8 jam. 8 jam x 30 hari = 240 jam/bulan 240 jam (1 bulan) x 12 bulan = 2.880 jam/tahun • Ditanya : 10.000 jam membutuhkan waktu berapa tahun? • Jawab : 10.00...

Urutan Kitab-Kitab Pembelajaran Ilmu Aqidah

Suatu malam saya menghadap asy-Syaikh al-Mu’allim Maulana Husam Ramadhan hafidzahullah untuk suatu urusan. Kebetulan saat itu ada beberapa teman dari bangsa Afrika yang sedang konsultasi tentang tahapan mempelajari ilmu-ilmu rasio, karena di antara mereka ada yang ingin masuk jurusan Aqidah dan Filsafat Universitas Al-Azhar. Di tengah pembicaraan, Syaikh bertanya tentang kitab-kitab dalam ilmu Aqidah yang dipelajari di negara mereka. Lalu disebutkan beberapa, di antaranya Aqidah Thahawiyah . Kemudian beliau bertanya, “Yang mengajar seorang Asy’ari atau bukan?”, kemudian “Iya” jawabnya. “Bagus kalau begitu” respon beliau. Lalu beliau berkata: “Saya akan mensyarah Thahawiyah Insyaallah. Sebagian orang salah dalam memahami isinya, padahal sebetulnya justru sangat bertentangan dengan apa yang mereka katakan.” “Hanya saja,” lanjut beliau “Thahawiyah bukan kitab pengajaran. Syarah-syarahnya juga bukan. Kitab-kitab pengajaran dalam disiplin ilmu ini adalah pertama Sanusiyat . Tapi yang Kubr...

Karya Pertama Dalam Ilmu Tajwid

Ilmu tajwid adalah ilmu untuk mempelajari cara membaca Al-Qur’an dengan benar. Ada 3 topik yang akan dipelajari dalam ilmu tajwid, yaitu : 1. Sifat-sifat huruf, 2. Makhārij ḥurūf 3. Interaksi antar huruf Setelah mengerti secara teoritis, lalu dipraktekkan dan dilatih berulang-ulang hingga memenuhi kriteria ideal . Dengan demikian ilmu tajwid adalah ilmu yang membahas tentang bunyi, yakni bunyi bacaan Al-Qur’an. Dalam karya-karya ilmu nahwu awal seperti kitabnya Sībawaih, kajian tentang bunyi bahasa dibahas dalam bab idgham (الإدغام). Dalam budaya barat, kajian bunyi bahasa semacam ini masuk dalam kajian ilmu Fonologi. Ilmu tajwid adalah ilmu yang bersifat skill atau keterampulan. Jadi tidak mungkin orang hanya bertumpu pada kitab-kitab ilmu tajwid untuk menguasainya. Harus ada talaqqi (pertemuan) dengan mentor dan guru yang bisa mentashih (memvalidasi) bunyi bacaannya. Ilmu tajwid berbeda dengan ilmu qira’at. Jika ilmu tajwid fokus bagaimana cara melafalkan Al-Qur’an, maka ilmu qira...