Langsung ke konten utama

Al-Ghazali Plagiat?


Kisah tentang kejeniusan al-Ghazali sudah masyhur di antara para pengkaji pemikirannya. Pada masa belianya, ada cerita di mana al-Ghazali dirampok oleh begal dan kitab-kitabnya diambil. Ia disindir oleh begal itu karena ketika itu ilmunya hanya berada dalam buku (sutur) bukan di dalam hati (sudur). Setelah kejadian itu al-Ghazali mengubah metode belajarnya dari membaca saja menuju ke menghapal dan memahami.

Kisah itulah yang kadang menuntun saya dalam mencari alasan kenapa sebagian kitab al-Ghazali adalah salinan dari kitab filsuf atau ilmuan sebelum dirinya. Setidaknya ada tiga kitab yang sementara ini saya ketahui mengandung unsur "salinan" itu. Pertama, al-Munqidz min al-Dhalal. Kedua, Ma’arij al-Qudsi. Ketiga, al-Risalah al-Laduniyyah. Dalam ketiga kitab ini terdapat berbagai macam kadar atau tingkatan (level) penyalinan, dari yang sekadar meminjam metode penulisan, sampai betul-betul terindikasi plagiat.

Syekh Abdul Halim Mahmud dalam kitabnya Qadhiyyah al-Tashawwuf al-Munqidz min al-Dhalal menyatakan bahwa metode penulisan kitab Al-Ghazali diilhami oleh kitabnya al-Muhasibi, yaitu mukadimah kitab al-Washaya. Tidak sekadar terilhami, al-Ghazali juga meminjam logika kepenulisan, yakni mengawali bukunya dengan kegelisahan akan adanya banyak kelompok Islam dan kutipan hadits Nabi yang masyhur itu kemudian bercerita tentang pencariannya akan kebenaran. al-Muhasibi, sufi sebelum al-Ghazali, memakai metode yang sama, meskipun kitabnya lebih tipis dari kitab al-Ghazali tersebut.

Pentahqiq karya-karya Al-Ghazali dan Ibnu Sina, Sulaiman Dunya, dalam bukunya al-Haqiqah fi Nadzr al-Ghazali menyatakan bahwa kitab Ma’arij al-Qudsi banyak menyalin kalimat bahkan alinea (bukan hanya kata dan definisi) dari kitab al-Najat-nya Ibnu Sina. Melalui studi filologis yang ketat dan perbandingan yang akurat, Sulaiman Dunya sampai pada kesimpulan bahwa kebenaran sejati menurut al-Ghazali termuat dalam dua kitabnya: (i) al-Madhnun bih ‘ala Ghair Ahlih (disebut al-Madhnun al-Shaghir), dan (ii) Maarij al-Qudsi (disebut al-Madhnun al-Kabir). Kedua kitab inilah yang mendapat banyak inspirasi dari filsafat dan tasawuf Ibnu Sina (sinawiyyah). Di titik ini, menurut Dunya, al-Ghazali belum bisa lepas dari konten dan metode filsafat yang telah ia bantah dalam Tahafut al-Falasifah.

Dr. Hasan Ashi mengumpulkan risalah Ibnu Sina dalam kitab al-Tafsir Al-Qur’ani wa al-Lughah al-Shufiyyah. Di antara banyak risalah, Dr. Hasan menemukan satu risalah yang berjudul al-‘Ilm al-Ladduni. Risalah ini berasal dari naskah yang berada dalam maktabah Hamidiyyah, bernomor 2/1452, jumlah halaman 23 ½, jumlah baris tiap halaman adalah 29 baris, dan mayoritas tiap baris memuat 9 kata. Di mukaddimah kitab ini, Dr. Hasan tidak menyinggung soal risalah al-Ghazali yang berjudul al-Risalah al-Ladduniah meskipun kedua naskah ini sangat mirip. Tingkat kemiripannya, ketika saya bandingkan sendiri kisaran 90%. Percaya atau tidak itulah kenyataannya.

Dari sini kita akan kembali lagi ke kisah di awal tulisan ini. Saya mencari sebab kenapa al-Ghazali mentanskrip kitab orang lain dengan tingkat kemiripan yang sedemikian rupa. Apakah karena hapalannya sungguh kuat sehingga ketika menulis ia tidak sadar sedang menulis apa yang dia hapal dari kitab orang lain? Premis ini masih butuh kajian mendalam. 

Beberapa tokoh sejarah dan pengkaji Al-Ghazali menyatakan bahwa kesibukan al-Ghazali dalam rihlah ilmiah dan mengajar santrinya merupakan alasan kenapa al-Ghazali tidak sempat mengedit kebanyakan kitabnya. Konsekuensi dari ketiadaan kesempatan mengedit adalah munculnya kecenderungan plagiasi yang barangkali di waktu itu sangatlah lumrah dan wajar namun sekarang menjadi masalah yang serius.

Premis saya dan beberapa klaim Sulaiman Dunya akan batal jika ada kajian yang berhasil menunjukkan bahwa kitab Ma’arij al-Qudsi bukanlah kitab al-Ghazali, atau ada kajian tandingan yang menunjukkan bahwa risalah al-‘Ilm al-Ladduni yang ditahqiq oleh Dr. Hasan Ashi bukanlah risalahnya Ibnu Sina. Jika ada yang berhasil membuktikan dua hal ini, tuduhan plagiasi yang dialamatkan kepada al-Ghazali akan hilang dan para pengkaji tentunya akan fokus kepada pemikiran al-Ghazali berdasarkan kitab-kitab yang disepakati merupakan buah tangannya sendiri.

Penulis :

Sumber :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

QAIS MERAWAT CINTA GILA, DEMIKIANKAH KITA?

Ada satu kisah gila, yang diperankan oleh orang yang gila pula bernama Qais bin Mulawwih bin Muzahim bin 'Adas bin Rabi'ah bin Ja'dah bin Ka'b bin Rabi'ah. Orang-orang lebih senang menyebutnya "Majnun" yang artinya si gila. Adapun Layla -demikian nama yang paling riskan disebut dalam kegilaan- bernama lengkap Layla binti Mahdi bin Sa'd bin Ka'b bin Rabi'ah, makhluk paling dirawat pemujaannya oleh Majnun, manusia yang tidak pernah mencintai dengan sederhana. Kisah ini menjadi kisah cinta purba yang menginspirasi lahirnya cerita-cerita lain yang tak mau kalah dalam mencinta, sebut saja Romeo-Juliet. Bahkan datang dari sumber lokal, sebuah kisah berlatar belakang kapal menceritakan lika-liku drama tragis kedua tokohnya yang diberi nama Zainuddin-Hayati.  Kisah cinta Qais dan Layla memang tak pernah berakhir bahagia. Tetapi, bukan disitu uniknya. Pada saat derajat sosial memustahilkan kecintaannya, Qais tak pernah melawan takdir. Sejak ...

Tahapan Belajar Fikih Syafi'i

Yang selalu membuat kagum dari guru kami, Habib Abdullah bin Ahmad al-Jufri, beliau begitu tertata rapi dan detil ketika mengkaji ensiklopedia kitab fikih. Wawasannya yang begitu luas nan komprehensif, tak heran jika beberapa Masyayikh menjuluki beliau; "Ifrit"-nya fikih Syafi'i. Kala itu sempat bertanya, "Maulana, kitab apa yang perlu diprioritaskan dalam belajar ilmu fikih madzhab Syafi'i sesuai tahapannya? Serta bagaimana urutannya?" "Ikhlaskan niat Lillahi Ta'ala serta Habibina al-Musthafa..." prolognya. Lalu lanjut beliau, "sebagaimana yang diajarkan guru-guru kami di Hadhramaut, sebagai kitab pembuka adalah : 1) Al-Risalah Al-Jami'ah karya al-Habib Ahmad Alawi al-Habsyi (w. 1144 H). Sebagai pengantar memasuki bahasan fikih. 2) Lalu tanamkan dasar-dasar fikihnya dengan kitab Safinah al-Najah karya Syeikh Salim bin Abdullah bin Sumair. Untuk syarahnya beliau biasa menggunakan kitab Nailu al-Raja' karya al-Habib Ahmad bin Uma...

Seberapa Akurat Metode Barat?

Karena tak sengaja menemukan tulisan Berbahayakah Studi Islam di Barat? oleh Mas Annas Rolli Muchlisin, saya pun tergerak menuliskan kegelisahan ini. Bukan seputar topik utama tulisan itu yang punya kesan ingin mendamaikan beberapa penulis yang berseteru sebulan ini. Namun lebih kepada pembuktian, bahwa studi Islam di Barat yang dibangga-banggakan sebagai penelitian dengan metodologi objektif, sejatinya menyimpan cacat metodologis yang cukup fatal. Ketika menampilkan perbedaan antara menjadi agamawan dengan menjadi peneliti, Mas Annas menampilkan dua contoh hasil kajian barat terkait tafsir dan teologi yang dari alurnya seolah ingin mengatakan, “Inilah hasil kajian Barat. Sangat menarik dan objektif kan? Tanpa harus menjadi agamawan pun, metodologi Barat mampu menghasilkan kesimpulan kajian yang membawa kemajuan pengetahuan bukan?” Pertama , seputar tafsir, ia menulis: “Para peneliti tafsir di Barat menemukan bahwa tafsir al-Kasyaf karya al-Zamakhsyari (w. 1144 M) adalah tafsir yang...