Langsung ke konten utama

Silabus Ilmu Qowaid Fiqhiyyah

Ilmu Qowaid Fiqhiyyah ini adalah Ilmu yang sangat menarik dan penting sekali. Pertama kali saya tahu kepentingan ilmu ini adalah dari murobbi saya, al-Ustaz al-Mufti Abdurahman bin Abdullah Assegaf, beliau banyak mengajari saya tentang Qowaid Fiqhiyah ini, bahkan kadang kala kami berdiskusi di Zawiyah Ba'alawy di atas masjid Ba'lawy. Kadang-kadang beliau juga menyuruh saya untuk membaca kitab-kitab Qowaid karangan Masyaikh Hadromaut yang masih berupa manuskrip seperti Mukhtashor Zarkasy yang dikarang oleh Syekh Muhammad bin Ahmad Bafadhol (تجريد القواعد).

Berdasarkan pengalaman saya dalam belajar Qowaid Fiqhiyah ini, seorang pelajar harus menghatamkan minimal satu kitab fiqh terlebih dahulu dari bab ibadah sampai bab I'tiq agar bisa mencerna Qowaid-Qowaid & Furu' yang disebutkan dalam kitab tersebut, karena mungkin satu qoidah bisa mempunyai aplikasi di bab I'badah, Mua'malat & Munakahat dan lain-lain. Adapun silabus yang saya anjurkan untuk dibaca dalam Ilmu Qowaid Fiqhiyyah ini adalah sebagai berikut :
• Level pengenalan : 
Husnul Bayan Fi Qowaid al-Fiqh al-Mushoon, karangan al-Habib Abdurohman bin Abdullah Assegaf.
• Level 1 : 
al-Idhoh fi al-Qowaid al-Fiqhiyyah, karangan syeh al-Lahji.
• Level 2 : 
Durusul Qowaid al-Fiqhiyyah, karangan al-Habib Abdurahman bin Abdullah Assegaf.
• Level 3 : 
al-Mawahib Assaniyah Syarah al-Faroid al-Bahiyyah, yang dihasyah oleh Syeh Yasin al-Fadani & diberi nama al-Fawaid al-Janiyah.
• Level 4 : 
al-Asybah wa Annadhoir, karangan al-Imam Assuyuthi.

Penulis :

Sumber :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

QAIS MERAWAT CINTA GILA, DEMIKIANKAH KITA?

Ada satu kisah gila, yang diperankan oleh orang yang gila pula bernama Qais bin Mulawwih bin Muzahim bin 'Adas bin Rabi'ah bin Ja'dah bin Ka'b bin Rabi'ah. Orang-orang lebih senang menyebutnya "Majnun" yang artinya si gila. Adapun Layla -demikian nama yang paling riskan disebut dalam kegilaan- bernama lengkap Layla binti Mahdi bin Sa'd bin Ka'b bin Rabi'ah, makhluk paling dirawat pemujaannya oleh Majnun, manusia yang tidak pernah mencintai dengan sederhana. Kisah ini menjadi kisah cinta purba yang menginspirasi lahirnya cerita-cerita lain yang tak mau kalah dalam mencinta, sebut saja Romeo-Juliet. Bahkan datang dari sumber lokal, sebuah kisah berlatar belakang kapal menceritakan lika-liku drama tragis kedua tokohnya yang diberi nama Zainuddin-Hayati.  Kisah cinta Qais dan Layla memang tak pernah berakhir bahagia. Tetapi, bukan disitu uniknya. Pada saat derajat sosial memustahilkan kecintaannya, Qais tak pernah melawan takdir. Sejak ...

Tahapan Belajar Fikih Syafi'i

Yang selalu membuat kagum dari guru kami, Habib Abdullah bin Ahmad al-Jufri, beliau begitu tertata rapi dan detil ketika mengkaji ensiklopedia kitab fikih. Wawasannya yang begitu luas nan komprehensif, tak heran jika beberapa Masyayikh menjuluki beliau; "Ifrit"-nya fikih Syafi'i. Kala itu sempat bertanya, "Maulana, kitab apa yang perlu diprioritaskan dalam belajar ilmu fikih madzhab Syafi'i sesuai tahapannya? Serta bagaimana urutannya?" "Ikhlaskan niat Lillahi Ta'ala serta Habibina al-Musthafa..." prolognya. Lalu lanjut beliau, "sebagaimana yang diajarkan guru-guru kami di Hadhramaut, sebagai kitab pembuka adalah : 1) Al-Risalah Al-Jami'ah karya al-Habib Ahmad Alawi al-Habsyi (w. 1144 H). Sebagai pengantar memasuki bahasan fikih. 2) Lalu tanamkan dasar-dasar fikihnya dengan kitab Safinah al-Najah karya Syeikh Salim bin Abdullah bin Sumair. Untuk syarahnya beliau biasa menggunakan kitab Nailu al-Raja' karya al-Habib Ahmad bin Uma...

Seberapa Akurat Metode Barat?

Karena tak sengaja menemukan tulisan Berbahayakah Studi Islam di Barat? oleh Mas Annas Rolli Muchlisin, saya pun tergerak menuliskan kegelisahan ini. Bukan seputar topik utama tulisan itu yang punya kesan ingin mendamaikan beberapa penulis yang berseteru sebulan ini. Namun lebih kepada pembuktian, bahwa studi Islam di Barat yang dibangga-banggakan sebagai penelitian dengan metodologi objektif, sejatinya menyimpan cacat metodologis yang cukup fatal. Ketika menampilkan perbedaan antara menjadi agamawan dengan menjadi peneliti, Mas Annas menampilkan dua contoh hasil kajian barat terkait tafsir dan teologi yang dari alurnya seolah ingin mengatakan, “Inilah hasil kajian Barat. Sangat menarik dan objektif kan? Tanpa harus menjadi agamawan pun, metodologi Barat mampu menghasilkan kesimpulan kajian yang membawa kemajuan pengetahuan bukan?” Pertama , seputar tafsir, ia menulis: “Para peneliti tafsir di Barat menemukan bahwa tafsir al-Kasyaf karya al-Zamakhsyari (w. 1144 M) adalah tafsir yang...