Langsung ke konten utama

Habib Muhammad Quraish Shihab dan Kritis Dalam Membaca (Seri Biografi Muhammad Quraish Shihab Part 1)

"Kapan saja ada waktu, saya membaca. Di mana saja ada tempat, saya menulis. Di Kantor, di pesawat, dan lain-lain."
Ungkap singkat Habib MQS mengenai keseharian beliau.

"Setelah subuh, saya membaca wiridan sepuluh menit. Setelah itu saya membuat teh (yang kelak menemani beliau dalam menulis). Setelah itu saya menulis sampai jam 8."

Saya mengajukan pertanyaaan kepada beliau; bagaimana seorang Habib MQS berinteraksi dengan kitab tafsir, baik itu dari sunni maupun syiah, baik itu kitab tafsir level pemula, level menengah dan level tinggi. Bagaimana beliau berinteraksi dengan kitab-kitab tafsir selama '60 tahun'? 

Beliau menjawab :
"Pertama: pilih-pilihlah buku yang Anda baca. Karena terlalu banyak buku itu. Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah pengarang. Anda ingin belajar tafsir, tapi yang ngarang bukan pakar di bidang tafsir."

"Jangan pernah menilai kebenaran dari orang. Tapi nilailah kebenaran dari ide. Saya mau beri contoh dari Alquran. 

"Ada orang-orang di masa Nabi yang menilai kebenaran bukan dari ide yang terdapat dalam Islam, tetapi karena melihat akhlaknya Nabi Muhammad saw. Cara itu sekarang tidak bisa lagi digunakan."

"Ada 3 cara orang dalam menilai ide. Nilailah sebuah ide dari faktor intern yang ada di dalam ide tersebut."

"Pada zaman Nabi, ada orang-orang yang masuk Islam karena melihat wajah Nabi. Alquran tidak mau seperti itu. Walaupun ada jaminan dari Alquran, Nabi itu benar. Maka Alquran turun : 

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُوْلٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ


"Nabi Muhammad itu Rasul yang bisa meninggal. Apakah ketika ia meninggal, kamu tinggalkan ide tersebut ketika idola kamu telah meninggal?"

"Itu sekarang. Anda mau baca, kritis. Bisa jadi apa yang dianggap benar dulu, sekarang sudah dianggap tidak benar."

"Pendapat-pendapat ulama yang lalu dalam tafsir, banyak yang istimewa tapi buat masanya. Sekarang tidak. Imam Fakhr al-Din al-Razi itu beberapa pendapatnya sekarang sudah out to date."

"Membaca harus kritis!" Pesan beliau.

Yang membuat saya terkagum, meski telah mencapai gelar presitius, doktoral dalam bidang Tafsir di al-Azhar dalam waktu yang sangat singkat, beliau terus membaca. Tidak peduli titel yang telah didapat, membaca tiada kata akhir. Bahasa tubuh beliau lebih fasih mengungkapkan kecintaan beliau kepada buku dibanding bahasa lisannya. Beliau pernah melontarkan canda:

"Sebenarnya sejak lama saya sudah poligami." Dalam sedih dan duka, beliau mencurahkan kepada istri pertama itu. Ketika ditanya siapa istri pertama itu, beliau menjawab:

"Buku!" 

Buuts, 30 Januari 2020

Penulis :
Beben (Syihab Syaibani)

Sumber :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

QAIS MERAWAT CINTA GILA, DEMIKIANKAH KITA?

Ada satu kisah gila, yang diperankan oleh orang yang gila pula bernama Qais bin Mulawwih bin Muzahim bin 'Adas bin Rabi'ah bin Ja'dah bin Ka'b bin Rabi'ah. Orang-orang lebih senang menyebutnya "Majnun" yang artinya si gila. Adapun Layla -demikian nama yang paling riskan disebut dalam kegilaan- bernama lengkap Layla binti Mahdi bin Sa'd bin Ka'b bin Rabi'ah, makhluk paling dirawat pemujaannya oleh Majnun, manusia yang tidak pernah mencintai dengan sederhana. Kisah ini menjadi kisah cinta purba yang menginspirasi lahirnya cerita-cerita lain yang tak mau kalah dalam mencinta, sebut saja Romeo-Juliet. Bahkan datang dari sumber lokal, sebuah kisah berlatar belakang kapal menceritakan lika-liku drama tragis kedua tokohnya yang diberi nama Zainuddin-Hayati.  Kisah cinta Qais dan Layla memang tak pernah berakhir bahagia. Tetapi, bukan disitu uniknya. Pada saat derajat sosial memustahilkan kecintaannya, Qais tak pernah melawan takdir. Sejak ...

Tahapan Belajar Fikih Syafi'i

Yang selalu membuat kagum dari guru kami, Habib Abdullah bin Ahmad al-Jufri, beliau begitu tertata rapi dan detil ketika mengkaji ensiklopedia kitab fikih. Wawasannya yang begitu luas nan komprehensif, tak heran jika beberapa Masyayikh menjuluki beliau; "Ifrit"-nya fikih Syafi'i. Kala itu sempat bertanya, "Maulana, kitab apa yang perlu diprioritaskan dalam belajar ilmu fikih madzhab Syafi'i sesuai tahapannya? Serta bagaimana urutannya?" "Ikhlaskan niat Lillahi Ta'ala serta Habibina al-Musthafa..." prolognya. Lalu lanjut beliau, "sebagaimana yang diajarkan guru-guru kami di Hadhramaut, sebagai kitab pembuka adalah : 1) Al-Risalah Al-Jami'ah karya al-Habib Ahmad Alawi al-Habsyi (w. 1144 H). Sebagai pengantar memasuki bahasan fikih. 2) Lalu tanamkan dasar-dasar fikihnya dengan kitab Safinah al-Najah karya Syeikh Salim bin Abdullah bin Sumair. Untuk syarahnya beliau biasa menggunakan kitab Nailu al-Raja' karya al-Habib Ahmad bin Uma...

Seberapa Akurat Metode Barat?

Karena tak sengaja menemukan tulisan Berbahayakah Studi Islam di Barat? oleh Mas Annas Rolli Muchlisin, saya pun tergerak menuliskan kegelisahan ini. Bukan seputar topik utama tulisan itu yang punya kesan ingin mendamaikan beberapa penulis yang berseteru sebulan ini. Namun lebih kepada pembuktian, bahwa studi Islam di Barat yang dibangga-banggakan sebagai penelitian dengan metodologi objektif, sejatinya menyimpan cacat metodologis yang cukup fatal. Ketika menampilkan perbedaan antara menjadi agamawan dengan menjadi peneliti, Mas Annas menampilkan dua contoh hasil kajian barat terkait tafsir dan teologi yang dari alurnya seolah ingin mengatakan, “Inilah hasil kajian Barat. Sangat menarik dan objektif kan? Tanpa harus menjadi agamawan pun, metodologi Barat mampu menghasilkan kesimpulan kajian yang membawa kemajuan pengetahuan bukan?” Pertama , seputar tafsir, ia menulis: “Para peneliti tafsir di Barat menemukan bahwa tafsir al-Kasyaf karya al-Zamakhsyari (w. 1144 M) adalah tafsir yang...