Langsung ke konten utama

Hafalan dan Pemahaman Bergandengan Tangan, Mungkinkah?

Syaikh Ibrahim Khuli pernah mengatakan : 

لا يفسر القرآن إلا من أوتي له البصيرة. والقرآن لا يكون إلا في قلبه ولسانه ووجدانه حتى يصبح القرآن أية واحدة


"Tidak akan menafsiri Alquran kecuali orang yang telah diberi bashirah oleh Allah. Alquran telah berada dalam lisan dan sanubarinya seakan-akan keseluruhan Alquran (dalam mata batin sang mufassir tersebut) hanya seperti satu ayat."

Imam Fakhruddin al-Razi mengatakan : 

الفَهْمُ غَيرُ الحِفظِ، والحُكَماءُ يَقولونَ: إنَّهما لا يَجتَمِعان، على سَبيلِ الكَمالِ؛ لِأنَّ الفَهْمَ يَستَدعي مَزيدَ رُطوبةٍ في الدِّماغِ، والحِفظَ يَستَدعي مَزيدَ يُبوسةٍ، والجَمعُ بَينَهما مُـحالٌ


"Pemahaman itu bukan hafalan. Para filsuf mengatakan keduanya tidak akan menyatu secara sempurna. Sebab pemahaman memerlukan unsur lembab dalam otak dan hafalan memerlukan unsur yang kering dalam otak. Menggabungkan keduanya (secara sempurna) adalah mustahil."

Saya pernah bertanya ke syaikh Husam, apakah ketika seseorang menghafal kitab-kitab dalam sebuah fan (sebutlah nahwu) lantas hal itu membuatnya mendapatkan malakah dalam ilmu?  

"Tidak mesti. Ada orang yang hafalannya, masyaallah tapi dia tidak memiliki malakah. Malakah didapat dari pemahaman dan kekuatan seseorang dalam berfikir terhadap sebuah masalah. Hafalan tidak menjadikan seseorang menjadi imam sebuah fan tertentu. Imam Mahalli hafalannya tidak kuat, (bahkan beliau pernah sakit setelah seminggu mencoba menghafal). Tapi akal imam Mahalli luar biasa dalam menjelaskan sebuah permasalahan."
Cukuplah kitab-kitab beliau menjadi bukti akan kekuatan akal beliau. 

من حفظ حجة على من لم يحفظ ومن فهم حجة على من حفظ


"Orang yang hafal, ia menjadi hujjah bagi orang yang tidak hafal." 

Qultu: Orang yang paham, ia menjadi hujjah bagi orang yang sekedar hafal"

Karena itu, Habib MQS mengatakan bahwa orang yang cuma hafal satu ayat dengan pemahaman jauh lebih baik daripada orang yang menghafal sepuluh ayat tanpa pemahaman. Karena yang mampu memberi petunjuk itu pemahamannya, bukan hafalannya. 

Hafalan dan pemahaman bergandengan tangan, Mungkinkah?

Mungkin saja. Tapi tidak secara sempurna, sebagaimana dawuh para filsuf. 

Orang bisa menghafal Alquran dalam waktu yang singkat: 10 bulan, setahun, dua tahun dan seterusnya. Tapi dalam memahami Alquran tidak cukup hanya dengan waktu segitu! Tidak heran kita melihat beberapa mufassir, sebutlah Habib MQS, baru mulai menafsiri Alquran setelah menyelesaikan berpuluh-puluhan tahun mempelajari ilmu alat dan ilmu maqashid dan di umur 50 keatas beliau mulai menafsirkan. Mendapatkan pemahaman tidak semudah yang kita duga. Ibnu Abbas, leluhur para mufassir, ketika menemukan kesulitan dalam memahami Alquran, merujuk ke syiir jahili, untuk mendapatkan pemahaman terhadap Alquran. 

Saya ingat sekali perkataan syaikh Husam bahwa orang tidak akan mungkin memahami secara detail firman Allah ليس كمثله شيء, tidak akan mengetahui شيء kecuali mengetahui apa itu شيء'. Dan Syai' akan dipahami dengan daqiq di ilmu maqulat!  😁

كل العلوم خادمة للقرآن 


Semua ilmu (baik syariyah dan non syariah) itu khadim untuk memahami Alquran. Demikian kata syaikh Salim Abu Ashi. 

Sekarang, orang-orang lebih ramai mengkampanyekan hafal Alquran, namun jarang kita temukan orang mengkampanyekan paham Alquran. Karena yang kedua membutuhkan waktu yang lama dibanding yang pertama. 

Syaikh Qadhi Abdul Jabbar, mbah-nya para mu'tazilah mengatakan :

وعظم شأن القرآن لا لأنه يتلى ويحفظ ورب صبي لم يبلغ حد كمال العقل يسابق الكبار من العقلاء في حفظه. وإنما عظم ذلك من حيث إذا تدبره المرء وتمسك بآدابه وأحكامه عظم نفعه دينا ودنيا


"Diagungkannya Alquran bukan karena dia dibaca dan dihafal saja, sebab banyak sekali anak-anak kecil yang belum baligh menandingi para ulama-ulama Aqliyat dalam hafalannya. Keagungan Alquran manakala seseorang merenunginya dan memegang kuat adab-adab dan hukum-hukumnya, kemanfaatannya besar bagi dunia dan agama."

Terakhir kali, saya ingin meminjam perkataannya sastrawan kenamaan, Mushtafa Shadiq Rafii:

"Jika tidak ada lautan, jangan pernah menunggu datangnya mutiara. Jika tidak ada bintang, jangan pernah menunggu datangnya cahaya. Jika tidak ada pohon mawar, jangan sekali-kali menunggu semerbak baunya."

Qultu: Jika tidak ada pemahaman terhadap syi'ir, ilmu lughah, ilmu alat dan ilmu maqashid, jangan sekali-sekali menunggu indahnya sebuah pemahaman terhadap Alquran!

Madinatul Buuts, 5 Desember 2019

Foto 2 tahun lalu. Di Hotel Fairmont. 😁😊

Penulis :
Beben (Syihab Syaibani)

Sumber :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

QAIS MERAWAT CINTA GILA, DEMIKIANKAH KITA?

Ada satu kisah gila, yang diperankan oleh orang yang gila pula bernama Qais bin Mulawwih bin Muzahim bin 'Adas bin Rabi'ah bin Ja'dah bin Ka'b bin Rabi'ah. Orang-orang lebih senang menyebutnya "Majnun" yang artinya si gila. Adapun Layla -demikian nama yang paling riskan disebut dalam kegilaan- bernama lengkap Layla binti Mahdi bin Sa'd bin Ka'b bin Rabi'ah, makhluk paling dirawat pemujaannya oleh Majnun, manusia yang tidak pernah mencintai dengan sederhana. Kisah ini menjadi kisah cinta purba yang menginspirasi lahirnya cerita-cerita lain yang tak mau kalah dalam mencinta, sebut saja Romeo-Juliet. Bahkan datang dari sumber lokal, sebuah kisah berlatar belakang kapal menceritakan lika-liku drama tragis kedua tokohnya yang diberi nama Zainuddin-Hayati.  Kisah cinta Qais dan Layla memang tak pernah berakhir bahagia. Tetapi, bukan disitu uniknya. Pada saat derajat sosial memustahilkan kecintaannya, Qais tak pernah melawan takdir. Sejak ...

Tahapan Belajar Fikih Syafi'i

Yang selalu membuat kagum dari guru kami, Habib Abdullah bin Ahmad al-Jufri, beliau begitu tertata rapi dan detil ketika mengkaji ensiklopedia kitab fikih. Wawasannya yang begitu luas nan komprehensif, tak heran jika beberapa Masyayikh menjuluki beliau; "Ifrit"-nya fikih Syafi'i. Kala itu sempat bertanya, "Maulana, kitab apa yang perlu diprioritaskan dalam belajar ilmu fikih madzhab Syafi'i sesuai tahapannya? Serta bagaimana urutannya?" "Ikhlaskan niat Lillahi Ta'ala serta Habibina al-Musthafa..." prolognya. Lalu lanjut beliau, "sebagaimana yang diajarkan guru-guru kami di Hadhramaut, sebagai kitab pembuka adalah : 1) Al-Risalah Al-Jami'ah karya al-Habib Ahmad Alawi al-Habsyi (w. 1144 H). Sebagai pengantar memasuki bahasan fikih. 2) Lalu tanamkan dasar-dasar fikihnya dengan kitab Safinah al-Najah karya Syeikh Salim bin Abdullah bin Sumair. Untuk syarahnya beliau biasa menggunakan kitab Nailu al-Raja' karya al-Habib Ahmad bin Uma...

Seberapa Akurat Metode Barat?

Karena tak sengaja menemukan tulisan Berbahayakah Studi Islam di Barat? oleh Mas Annas Rolli Muchlisin, saya pun tergerak menuliskan kegelisahan ini. Bukan seputar topik utama tulisan itu yang punya kesan ingin mendamaikan beberapa penulis yang berseteru sebulan ini. Namun lebih kepada pembuktian, bahwa studi Islam di Barat yang dibangga-banggakan sebagai penelitian dengan metodologi objektif, sejatinya menyimpan cacat metodologis yang cukup fatal. Ketika menampilkan perbedaan antara menjadi agamawan dengan menjadi peneliti, Mas Annas menampilkan dua contoh hasil kajian barat terkait tafsir dan teologi yang dari alurnya seolah ingin mengatakan, “Inilah hasil kajian Barat. Sangat menarik dan objektif kan? Tanpa harus menjadi agamawan pun, metodologi Barat mampu menghasilkan kesimpulan kajian yang membawa kemajuan pengetahuan bukan?” Pertama , seputar tafsir, ia menulis: “Para peneliti tafsir di Barat menemukan bahwa tafsir al-Kasyaf karya al-Zamakhsyari (w. 1144 M) adalah tafsir yang...