Langsung ke konten utama

10.000 Hour Rule to be Extraordinary People


Berapa jam waktu latihan yang dibutuhkan untuk seorang pesepakbola agar bisa mendapatkan skill dribling yang baik, akurasi passing yang tinggi, dan kemampuan shooting yang terukur ? 

Berapa jam waktu belajar yang dibutuhkan oleh seorang ahli kimia untuk menguasai teori-teori dalam ilmu kimia ?

Setidaknya, menurut penelitian Anders Ericsson, kita butuh 10.000 jam untuk menjadi seorang expert atau extra ordinary di satu atau beberapa bidang keilmuan. Hal ini sebagaimana yang dikutip oleh Malcolm Gladwells dalam "Outliers: The Story of Success" yang cukup menyita perhatian. Bila kita coba buat kalkulasi ideal tentang berapa tahun kita bisa mencapai 10.000 jam ini, maka mungkin bisa diandaikan dengan pernyataan di bawah ini.

• Diketahui :
Seseorang mengalokasikan waktunya setiap hari untuk belajar atau berlatih sesuatu selama 8 jam.
8 jam x 30 hari = 240 jam/bulan
240 jam (1 bulan) x 12 bulan = 2.880 jam/tahun

• Ditanya :
10.000 jam membutuhkan waktu berapa tahun?

• Jawab :
10.000 jam ÷ 2.880 Jam =
3,472 Tahun

Jadi, sekitar 3,5 tahun waktu yang kita butuhkan untuk menjadi seseorang yang istimewa atau pakar di salah satu bidang ilmu dengan syarat mengalokasikan secara konsisten 8 jam per hari untuk mempelajari satu bidang ilmu tersebut.

Pertanyaannya adalah apakah kita mampu mengalokasikan waktu kita selama 8 jam setiap hari untuk mempelajari hal yang ingin kita kuasai? Padahal gak sampai 15 menit saja kita sudah cari hp dan main facebook?

Kalau jawabannya adalah gak mampu, maka gak heran bila kita akhirnya hanya jadi mas-mas atau mbak-mbak biasa yang hobi ngobrol, ngegosip, nongki, ngegame, makan, dan tidur saja

Penulis :

Sumber :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

QAIS MERAWAT CINTA GILA, DEMIKIANKAH KITA?

Ada satu kisah gila, yang diperankan oleh orang yang gila pula bernama Qais bin Mulawwih bin Muzahim bin 'Adas bin Rabi'ah bin Ja'dah bin Ka'b bin Rabi'ah. Orang-orang lebih senang menyebutnya "Majnun" yang artinya si gila. Adapun Layla -demikian nama yang paling riskan disebut dalam kegilaan- bernama lengkap Layla binti Mahdi bin Sa'd bin Ka'b bin Rabi'ah, makhluk paling dirawat pemujaannya oleh Majnun, manusia yang tidak pernah mencintai dengan sederhana. Kisah ini menjadi kisah cinta purba yang menginspirasi lahirnya cerita-cerita lain yang tak mau kalah dalam mencinta, sebut saja Romeo-Juliet. Bahkan datang dari sumber lokal, sebuah kisah berlatar belakang kapal menceritakan lika-liku drama tragis kedua tokohnya yang diberi nama Zainuddin-Hayati.  Kisah cinta Qais dan Layla memang tak pernah berakhir bahagia. Tetapi, bukan disitu uniknya. Pada saat derajat sosial memustahilkan kecintaannya, Qais tak pernah melawan takdir. Sejak ...

Tahapan Belajar Fikih Syafi'i

Yang selalu membuat kagum dari guru kami, Habib Abdullah bin Ahmad al-Jufri, beliau begitu tertata rapi dan detil ketika mengkaji ensiklopedia kitab fikih. Wawasannya yang begitu luas nan komprehensif, tak heran jika beberapa Masyayikh menjuluki beliau; "Ifrit"-nya fikih Syafi'i. Kala itu sempat bertanya, "Maulana, kitab apa yang perlu diprioritaskan dalam belajar ilmu fikih madzhab Syafi'i sesuai tahapannya? Serta bagaimana urutannya?" "Ikhlaskan niat Lillahi Ta'ala serta Habibina al-Musthafa..." prolognya. Lalu lanjut beliau, "sebagaimana yang diajarkan guru-guru kami di Hadhramaut, sebagai kitab pembuka adalah : 1) Al-Risalah Al-Jami'ah karya al-Habib Ahmad Alawi al-Habsyi (w. 1144 H). Sebagai pengantar memasuki bahasan fikih. 2) Lalu tanamkan dasar-dasar fikihnya dengan kitab Safinah al-Najah karya Syeikh Salim bin Abdullah bin Sumair. Untuk syarahnya beliau biasa menggunakan kitab Nailu al-Raja' karya al-Habib Ahmad bin Uma...

Seberapa Akurat Metode Barat?

Karena tak sengaja menemukan tulisan Berbahayakah Studi Islam di Barat? oleh Mas Annas Rolli Muchlisin, saya pun tergerak menuliskan kegelisahan ini. Bukan seputar topik utama tulisan itu yang punya kesan ingin mendamaikan beberapa penulis yang berseteru sebulan ini. Namun lebih kepada pembuktian, bahwa studi Islam di Barat yang dibangga-banggakan sebagai penelitian dengan metodologi objektif, sejatinya menyimpan cacat metodologis yang cukup fatal. Ketika menampilkan perbedaan antara menjadi agamawan dengan menjadi peneliti, Mas Annas menampilkan dua contoh hasil kajian barat terkait tafsir dan teologi yang dari alurnya seolah ingin mengatakan, “Inilah hasil kajian Barat. Sangat menarik dan objektif kan? Tanpa harus menjadi agamawan pun, metodologi Barat mampu menghasilkan kesimpulan kajian yang membawa kemajuan pengetahuan bukan?” Pertama , seputar tafsir, ia menulis: “Para peneliti tafsir di Barat menemukan bahwa tafsir al-Kasyaf karya al-Zamakhsyari (w. 1144 M) adalah tafsir yang...