Langsung ke konten utama

Jenis-Jenis Format Kamus Bahasa Arab


Sebelum membahas tentang berbagai format kamus bahasa Arab, perlu diketahui dulu bahwa ilmu yang mempelajari tentang pengumpulan kosakata beserta makna-maknanya ke dalam satu buku khusus yang tersusun dengan sistematika tertentu, ilmu semacam ini disebut dengan “Leksikografi”. Adapun ilmu yang khusus mengkaji tentang kosakata dan maknanya saja disebut “Leksikologi”.

Leksikografi dan Leksikologi adalah dua ilmu yang sangat berhubungan erat. Perbedaannya hanya terletak pada Leksikologi sebagai ilmu yang termasuk dalam kajian linguistik teoritis sedangkan Leksikografi (ilm al-shina’ah al-mu’jamiyyah) termasuk dalam kajian linguistik praktis atau terapan, artinya adalah berfokus pada pengamatan langsung terhadap susunan kamus-kamus kebahasaan. Meskipun berbeda, kedua ilmu ini tidak bisa dipisahkan. Leksikologi tanpa Leksikografi hanya akan menghasilkan pembahasan-pembahasan teoritis belaka mengenai makna-makna kata tanpa bisa menghasilkan produk nyata berupa kamus-kamus berkualitas yang mewadahi itu semua. Leksikologi dan Leksikografi Arab telah berkontribusi banyak dalam mengenalkan produk-produk kamus bahasa Arab yang sangat beragam dan unik. 

Kamus-kamus bahasa Arab memiliki berbagai macam varian jenis dan karakteristik khas. Secara umum, semua kamus bahasa Arab terbagi menjadi dua jenis klasifikasi berdasarkan sistematika dasar penyusunannya :

1. Sistem Makna (Kamus Ma’ani)
Sistem ini merupakan sistem yang mengatur penyusunan semua kosakata di dalam kamus dengan mengurutkan semua kosakata tersebut berdasarkan temanya (tematik). Contohnya, kosakata “siswa”, “belajar”, “buku”, dan sebagainya dikumpulkan dalam satu bab atau tema dengan judul “sekolah”. Dengan kata lain, kamus yang menggunakan sistem ma’ani ini dapat disebut juga dengan kamus tematik. Di antara kamus-kamus bahasa Arab yang menggunakan sistem ma’ani, yaitu :
•  Al-Gharib al-Mushannaf, karya Abu Ubaid al-Qasimi bin Salman (w. 244 H)
•  Al-Alfadz al-Kitabiyyah, karya Abdurrahman al-Hamdzani (w. 320 H)
•  Mutakhayyir al-Alfadz, karya Ibnu Faris (w. 395 H)
•  Fiqh al-Lughah wa Sirr al-Arabiyyah, karya Abu Mansur al-Tsa’labi (w. 429 H)
•  Al-Mukhashshash fi al-Lughah, karya Ibnu Sidah (w. 458 H)
•  Kifayah al-Mutahaffidz wa Nihayah al-Mutalaffidz, karya Ibnu al-Ajdani (w. 600 H)
•  dan lain-lain

2. Sistem Lafadz (Kamus Alfadz)
Sistem ini merupakan sistem yang mengatur penyusunan semua kosakata di dalam kamus dengan mengurutkan semua kosakata tersebut berdasarkan urutan lafadz (indeks), bukan berdasarkan pada makna (tema) kata. Sistem ini terbagi lagi menjadi beberapa sub sistem, yaitu :
  • a. Sistem Fonetik (Nizham al-Shauty)
Sub sistem ini mengurutkan kata berdasarkan urutan makharij al-huruf (tempat keluarnya huruf) dalam ilmu fonetik. Dalam ilmu fonetik (ilmu ashwat), urutan-urutan makharij al-huruf adalah sebagai berikut :
1. Tenggorokan (halqiyyah), huruf-hurufnya adalah ع، ح، ها،خ، غ، أ
2. Anak Lidah (lahwiyah), huruf-hurufnya adalah ك dan  ق
3. Lidah Bagian Tengah (syajariyah), huruf-hurufnya adalah ج، ش، ض
4. Lidah Bagian Depan (asaliyah), huruf-hurufnya adalah ص، س، ز
5. Kulit Ujung Langit-Langit (nath’iyah), huruf-hurufnya adalah ط، د، ت
6. Gusi (litsawiyah), huruf-hurufnya adalah ظ، ذ، ث
7. Ujung Lidah (dzalqiyah), huruf-hurufnya adalah ر، ل، ن، ف، ب، م
8. Huruf-Huruf dari Jalur Pernafasan, huruf-hurufnya adalah و، ا، ي

Namun, urutannya tidak harus selalu begini. Al-Khalil misalnya, ia tidak memulai penyusunan entrinya dari kata-kata yang diawali dengan huruf hamzah, meskipun hamzah merupakan huruf yang berasal dari makharij al-huruf yang pertama yaitu tenggorokan. Al-Khalil berpendapat bahwa huruf hamzah merupakan huruf yang tidak konsisten sehingga tidak bisa diletakkan di urutan pertama. Di antara kamus-kamus bahasa Arab yang menggunakan sistem berbasis urutan fonetis ini, yaitu :
•  Al-‘Ain, karya Khalil bin Ahmad al-Farahidi (w. 170 H)
•  Al-Bari’, karya Isma’il al-Qali (w. 356 H)
•  Tahdzib al-Lughah, karya Abu Manshur Muhammad bin Ahmad al-Harawi (w. 370 H)

  • b. Sistem Alfabetis (Nizham al-Alfaba’i)
Sub sistem ini mengurutkan kata berdasarkan urutan-urutan alfabetis, baik urutan alfabetis khusus, urutan alfabetis berbasis sistem qafiyah, urutan alfabetis berbasis huruf pertama dari kata dasar, dan urutan alfabetis berbasis artikulasi (nuthqi). 

Misalnya, urutan alfabetis khusus, mengurutkan entri berdasarkan urutan huruf hijaiyah yang dikemukakan oleh Nashr bin Ashim sebagai berikut :

أ، ب، ت، ث، ج، ح، خ، د، ذ، ر، ز، س، ش، ص، ض، ط، ظ، ع، غ، ف، ق، ك، ل، م، ن، و، ها، ي

Di antara kamus yang menggunakan urutan alfabetis khusus ini adalah Jamharah al-Lughah karya Ibnu Duraid al-Azdi (w. 321 H).

Adapun urutan alfabetis berbasis sistem qafiyah, yaitu urutan yang didasarkan pada huruf terakhir dari setiap kata. Di antara kamus yang menggunakan urutan alfabetis berbasis sistem qafiyah ini adalah al-Shihah karya Isma’il bin Hammad al-Jauhari (w. 393 H) atau Lisan al-Arab karya Ibnu Manzhur (w. 711 H). 

Sedangkan urutan alfabetis berbasis huruf pertama dari kata dasar, maksudnya adalah diurutkan berdasarkan huruf pertama dari setiap kata dasar setelah huruf-huruf tambahannya dibuang. Artinya, bentuk yang dijadikan patokan adalah bentuk “mujarrad” setiap kata, bukan bentuk “mazid” nya yang terdapat sudah ditambahi dengan huruf-huruf tambahan dari huruf-huruf yang menyusun akar kata atau kata dasarnya. Di antara kamus yang menggunakan urutan alfabetis berbasis huruf pertama dari kata dasar adalah Mu’jam Maqayis al-Lughah karya Ibnu Faris (w. 395 H) dan al-Mu’jam al-Wasith karya Majma’ al-Lughah al-Arabiyyah Kairo yang dipimpin oleh Syaikh Ibrahim Anis.

Terakhir, ada urutan alfabetis berbasis artikulasi (nuthqi), yaitu sistem pengurutan yang mengurutkan entri apa adanya tanpa membuang huruf tambahannya seperti yang terjadi pada sistem "urutan alfabetis berbasis huruf pertama dari kata dasar" sebelumnya. Artinya adalah baik dalam bentuk “mujarrad” setiap kata maupun dalam bentuk “mazid”-nya, semuanya ditampilkan dalam sistem pengurutan. Di antara kamus yang menggunakan urutan alfabetis berbasis artikulasi (nuthqi) adalah al-Ta’rifat karya al-Jurjani (w. 392 H) dan al-Marja’ karya Abdullah al-Alayali.

Referensi :
1. Iwan Sudirwan, Kamus Bahasa Arab (Studi Komparatif Metodologi Al-‘Ain, Al-Bari’, dan Tahdzib al-Lughah), STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah) Ibnu Rusyd, FIKRUNA: Jurnal Ilmiah Kependidikan dan Kemasyarakat, Vol. 4, No. 1.
2. Akhmad Saehudin, Tradisi Penyusunan Kamus Arab: Telaah Kritis tentang Sejarah Leksikografi Arab, UIN Syarif Hidayatullah, Buletin Al-Turas: Jurnal Humaniora (Sejarah, Kultur, Bahasa, Literatur, dan Ilmu Perpustakaan), Vol. 11, No. 3, September 2005.

Penulis :
Muhammad Adib

Sumber :
https://www.facebook.com/100000708494197/posts/pfbid02oaVb78ysT9ZRRSm2k2w73XBJ8mbQu7BjW8SHbScer5ZSTcj3pZnzhRY6Ndh9nEfYl/?mibextid=Nif5oz

Komentar

Postingan populer dari blog ini

QAIS MERAWAT CINTA GILA, DEMIKIANKAH KITA?

Ada satu kisah gila, yang diperankan oleh orang yang gila pula bernama Qais bin Mulawwih bin Muzahim bin 'Adas bin Rabi'ah bin Ja'dah bin Ka'b bin Rabi'ah. Orang-orang lebih senang menyebutnya "Majnun" yang artinya si gila. Adapun Layla -demikian nama yang paling riskan disebut dalam kegilaan- bernama lengkap Layla binti Mahdi bin Sa'd bin Ka'b bin Rabi'ah, makhluk paling dirawat pemujaannya oleh Majnun, manusia yang tidak pernah mencintai dengan sederhana. Kisah ini menjadi kisah cinta purba yang menginspirasi lahirnya cerita-cerita lain yang tak mau kalah dalam mencinta, sebut saja Romeo-Juliet. Bahkan datang dari sumber lokal, sebuah kisah berlatar belakang kapal menceritakan lika-liku drama tragis kedua tokohnya yang diberi nama Zainuddin-Hayati.  Kisah cinta Qais dan Layla memang tak pernah berakhir bahagia. Tetapi, bukan disitu uniknya. Pada saat derajat sosial memustahilkan kecintaannya, Qais tak pernah melawan takdir. Sejak ...

Tahapan Belajar Fikih Syafi'i

Yang selalu membuat kagum dari guru kami, Habib Abdullah bin Ahmad al-Jufri, beliau begitu tertata rapi dan detil ketika mengkaji ensiklopedia kitab fikih. Wawasannya yang begitu luas nan komprehensif, tak heran jika beberapa Masyayikh menjuluki beliau; "Ifrit"-nya fikih Syafi'i. Kala itu sempat bertanya, "Maulana, kitab apa yang perlu diprioritaskan dalam belajar ilmu fikih madzhab Syafi'i sesuai tahapannya? Serta bagaimana urutannya?" "Ikhlaskan niat Lillahi Ta'ala serta Habibina al-Musthafa..." prolognya. Lalu lanjut beliau, "sebagaimana yang diajarkan guru-guru kami di Hadhramaut, sebagai kitab pembuka adalah : 1) Al-Risalah Al-Jami'ah karya al-Habib Ahmad Alawi al-Habsyi (w. 1144 H). Sebagai pengantar memasuki bahasan fikih. 2) Lalu tanamkan dasar-dasar fikihnya dengan kitab Safinah al-Najah karya Syeikh Salim bin Abdullah bin Sumair. Untuk syarahnya beliau biasa menggunakan kitab Nailu al-Raja' karya al-Habib Ahmad bin Uma...

Seberapa Akurat Metode Barat?

Karena tak sengaja menemukan tulisan Berbahayakah Studi Islam di Barat? oleh Mas Annas Rolli Muchlisin, saya pun tergerak menuliskan kegelisahan ini. Bukan seputar topik utama tulisan itu yang punya kesan ingin mendamaikan beberapa penulis yang berseteru sebulan ini. Namun lebih kepada pembuktian, bahwa studi Islam di Barat yang dibangga-banggakan sebagai penelitian dengan metodologi objektif, sejatinya menyimpan cacat metodologis yang cukup fatal. Ketika menampilkan perbedaan antara menjadi agamawan dengan menjadi peneliti, Mas Annas menampilkan dua contoh hasil kajian barat terkait tafsir dan teologi yang dari alurnya seolah ingin mengatakan, “Inilah hasil kajian Barat. Sangat menarik dan objektif kan? Tanpa harus menjadi agamawan pun, metodologi Barat mampu menghasilkan kesimpulan kajian yang membawa kemajuan pengetahuan bukan?” Pertama , seputar tafsir, ia menulis: “Para peneliti tafsir di Barat menemukan bahwa tafsir al-Kasyaf karya al-Zamakhsyari (w. 1144 M) adalah tafsir yang...