Syaikh Nuruddin Itr lebih memilih penggunaan istilah tafsir manhaji ketimbang tafsir tahlili meskipun dalam catatan kaki beliau menyampaikan kalau kedua istilah tersebut berbeda karena tafsir tahlili itu sifatnya lebih rinci dan lebih mendalam dari tafsir manhaji.¹ Namun, bila diperhatikan, definisi atau penggambaran tentang konsep tafsir manhaji yang dimaksud hampir tidak ada perbedaan dengan konsep dasar tafsir tahlili, which is (yang mana) sama-sama membagi pembahasan ayat-ayat Al-Qur'an menjadi beberapa aspek pembahasan seperti sebab turunnya ayat (asbab al-nuzul), hubungan ayat dengan ayat lain (munasabah), kosakata ayat (al-mufradat al-lughawiyyah), gramatikal ayat (i'rab), nilai sastra ayat (balaghah), dan lain sebagainya.
Karena pembahasan yang bercabang-cabang dan terbagi-bagi ini lah yang membuat Muhammad Baqir al-Shadr juga menggunakan istilah lain yaitu "tafsir tajzi'i", bukan "tafsir tahlili".
Footnote :
¹ Nuruddin Itr, Ulum Al-Qur'an al-Karim, (Damaskus: Mathba'ah al-Shabah, 1416 H), hlm. 112-113.
Penulis :
Sumber :



Komentar
Posting Komentar