Langsung ke konten utama

Tafsir Ibnu Majah


Mungkin selama ini ketika mendengar nama Ibnu Majah, maka yang ada di benak kita adalah seorang muhaddits yang menulis kitab hadits bertipe sunan yang kemudian akrab dikenal dengan sebutan Sunan Ibnu Majah.

Namun, salah satu fakta lain tentang Imam Ibnu Majah yang mungkin jarang diketahui adalah bahwa banyak para ulama terdahulu yang juga mengenalkan beliau sebagai seorang mufassir besar dan pernah menulis kitab tafsir.

Hal ini dibuktikan oleh kesaksian para ulama yang menyatakan demikian, diantaranya :

محمدُ ‌بنُ ‌يزيدَ ‌ابن ‌ماجَة

الحافظُ الكبيرُ المفسِّر، أبو عبد اللَّه القَزْويني، صاحب "السنن" و "التفسير" و"التاريخ"¹

"Muhammad bin Yazid bin Majah adalah seorang hafizh terkemuka, mufassir (ahli tafsir), nama kunyahnya adalah Abu Abdillah al-Qazwini, pemilik kitab sunan (hadits), tafsir, dan tarikh (sejarah)"
[Muhammad bin Abdul Hadi, Thabaqat Ulama' al-Hadits, 2/341]

وله كتاب في «التفسير»، وكتاب «السنن»، وكتاب «التاريخ» إلى عصره²

"Ia (Ibnu Majah) memiliki kitab di dalam bidang tafsir, sunan, dan tarikh pada masanya"
[Syamsuddin al-Dawudi al-Maliki, Thabaqat al-Mufassirin, 2/273]

وله تفسير حافل وتاريخ كامل من لدن الصحابة إلى عصره³

"Ia memiliki kitab tafsir yang kaya akan pembahasan dan tarikh yang lengkap dari masa sahabat hingga masanya"
[Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, 14/609]

Akan tetapi kitab tafsir tersebut hilang dan tidak ditemukan manuskripnya sampai sekarang sehingga tidak sampai ke tangan kita. Bukan hanya kitab tafsirnya saja, banyak dari kitab-kitabnya yang lain juga hilang, yang selamat dan sampai ke tangan kita hanya Sunan Ibnu Majah sehingga bisa kita baca dan ambil faidahnya hingga hari ini.⁴

Wallahu a'lam

Footnote :
¹ Muhammad bin Ahmad bin Abdul Hadi al-Shalihi, Thabaqat Ulama' al-Hadits, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1417 H), Jilid 2, hlm. 341
² Syamsuddin Muhammad bin Ali al-Dawudi al-Maliki, Thabaqat al-Mufassirin, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, t.th), Jilid 2, hlm. 273
³ Isma'il bin Umar bin Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, (Gaza: Dar Hajr li al-Thiba'ah wa al-Nasyr wa al-Tauzi' wa al-I'lan, 1418 H), Jilid 14, hlm. 609
https://www.youm7.com/.../%D8%A7%D8%A8%D9%86-%D9.../5662091

Penulis :

Muhammad Adib

Sumber :
https://www.facebook.com/100000708494197/posts/pfbid0pkKBJDa5QKw387NB6ogEm1pMKEdNR2eTA3Qu3FyAkDqJBKrpDvZDrbmm2MjgoRs6l/?mibextid=Nif5oz


Komentar

Postingan populer dari blog ini

QAIS MERAWAT CINTA GILA, DEMIKIANKAH KITA?

Ada satu kisah gila, yang diperankan oleh orang yang gila pula bernama Qais bin Mulawwih bin Muzahim bin 'Adas bin Rabi'ah bin Ja'dah bin Ka'b bin Rabi'ah. Orang-orang lebih senang menyebutnya "Majnun" yang artinya si gila. Adapun Layla -demikian nama yang paling riskan disebut dalam kegilaan- bernama lengkap Layla binti Mahdi bin Sa'd bin Ka'b bin Rabi'ah, makhluk paling dirawat pemujaannya oleh Majnun, manusia yang tidak pernah mencintai dengan sederhana. Kisah ini menjadi kisah cinta purba yang menginspirasi lahirnya cerita-cerita lain yang tak mau kalah dalam mencinta, sebut saja Romeo-Juliet. Bahkan datang dari sumber lokal, sebuah kisah berlatar belakang kapal menceritakan lika-liku drama tragis kedua tokohnya yang diberi nama Zainuddin-Hayati.  Kisah cinta Qais dan Layla memang tak pernah berakhir bahagia. Tetapi, bukan disitu uniknya. Pada saat derajat sosial memustahilkan kecintaannya, Qais tak pernah melawan takdir. Sejak ...

Tahapan Belajar Fikih Syafi'i

Yang selalu membuat kagum dari guru kami, Habib Abdullah bin Ahmad al-Jufri, beliau begitu tertata rapi dan detil ketika mengkaji ensiklopedia kitab fikih. Wawasannya yang begitu luas nan komprehensif, tak heran jika beberapa Masyayikh menjuluki beliau; "Ifrit"-nya fikih Syafi'i. Kala itu sempat bertanya, "Maulana, kitab apa yang perlu diprioritaskan dalam belajar ilmu fikih madzhab Syafi'i sesuai tahapannya? Serta bagaimana urutannya?" "Ikhlaskan niat Lillahi Ta'ala serta Habibina al-Musthafa..." prolognya. Lalu lanjut beliau, "sebagaimana yang diajarkan guru-guru kami di Hadhramaut, sebagai kitab pembuka adalah : 1) Al-Risalah Al-Jami'ah karya al-Habib Ahmad Alawi al-Habsyi (w. 1144 H). Sebagai pengantar memasuki bahasan fikih. 2) Lalu tanamkan dasar-dasar fikihnya dengan kitab Safinah al-Najah karya Syeikh Salim bin Abdullah bin Sumair. Untuk syarahnya beliau biasa menggunakan kitab Nailu al-Raja' karya al-Habib Ahmad bin Uma...

Seberapa Akurat Metode Barat?

Karena tak sengaja menemukan tulisan Berbahayakah Studi Islam di Barat? oleh Mas Annas Rolli Muchlisin, saya pun tergerak menuliskan kegelisahan ini. Bukan seputar topik utama tulisan itu yang punya kesan ingin mendamaikan beberapa penulis yang berseteru sebulan ini. Namun lebih kepada pembuktian, bahwa studi Islam di Barat yang dibangga-banggakan sebagai penelitian dengan metodologi objektif, sejatinya menyimpan cacat metodologis yang cukup fatal. Ketika menampilkan perbedaan antara menjadi agamawan dengan menjadi peneliti, Mas Annas menampilkan dua contoh hasil kajian barat terkait tafsir dan teologi yang dari alurnya seolah ingin mengatakan, “Inilah hasil kajian Barat. Sangat menarik dan objektif kan? Tanpa harus menjadi agamawan pun, metodologi Barat mampu menghasilkan kesimpulan kajian yang membawa kemajuan pengetahuan bukan?” Pertama , seputar tafsir, ia menulis: “Para peneliti tafsir di Barat menemukan bahwa tafsir al-Kasyaf karya al-Zamakhsyari (w. 1144 M) adalah tafsir yang...