Di tengah pembicaraan, Syaikh bertanya tentang kitab-kitab dalam ilmu Aqidah yang dipelajari di negara mereka. Lalu disebutkan beberapa, di antaranya Aqidah Thahawiyah. Kemudian beliau bertanya, “Yang mengajar seorang Asy’ari atau bukan?”, kemudian “Iya” jawabnya. “Bagus kalau begitu” respon beliau. Lalu beliau berkata: “Saya akan mensyarah Thahawiyah Insyaallah. Sebagian orang salah dalam memahami isinya, padahal sebetulnya justru sangat bertentangan dengan apa yang mereka katakan.”
“Hanya saja,” lanjut beliau “Thahawiyah bukan kitab pengajaran. Syarah-syarahnya juga bukan. Kitab-kitab pengajaran dalam disiplin ilmu ini adalah pertama Sanusiyat. Tapi yang Kubra bisa diloncati, dan langsung ke tahap berikutnya. Tahap ini bisa juga diisi dengan Kharidah Bahiyah atau Jauharatut Tauhid. Hanya saja Sanusiyat lebih banyak dipakai di lembaga-lembaga keilmuan di dunia."
"Setelah Sanusiyat masuklah ke Thawali’ul Anwar karya Imam Baidhawi beserta syarah Ashfahani. Lalu setelahnya Tahdzibul Kalam karya Sa’duddin Taftazani. Terakhir adalah Mawaqif beserta syarah Sayyid Jurjani tentunya.”
“Dalam tahap pertama, mempelajari Ummul Barahin, Kharidah, atau Jauharah, mungkin para pelajar bisa menjalaninya tanpa ilmu Manthiq. Tapi tidak di tahap berikutnya sampai akhir. Seseorang tidak mungkin bisa faham Thawali', Tahdzib, dan Mawaqif, tanpa terlebih dahulu memperlajari ilmu Manthiq. Tidak bisa juga difahami tanpa ilmu Balaghah, khususnya ilmu Bayan, dan juga tidak akan bisa dipahami tanpa terlebih dahulu mempelajari ilmu Adab Bahts. Tapi ilmu Adab Bahs dipelajarinya setelah Manthiq dan Balaghah.”
Setelah itu perbincangan berganti tema ke Filsafat, sampai mendekati jam 12 malam di ruang mengajar beliau Hafidzahullahu Ta’ala. Di antara isi perbincangan tersebut, beliau menasehati supaya dalam mencari ilmu kita lebih menyibukkan dengan karya-karya para ulama sebelum tahun 1900 M, sebelum masuknya sistem perkuliahan di dunia Islam.
"Jika mau mempelajari Filsafat, maka mulailah dengan Al-Hidayah karya Al-Abahri, pengarang Isaghuji. Itu kitab untuk mubtadi'. Ada beberapa syarah dan hasyiah bagus untuknya. Tapi semuanya susah."
Saya bertanya, "Maulana.. Apakah kita akan mempelajari Filsafat?", "Iya, Insyaallah," jawab beliau. "Tapi setelah Manthiq dan Adab Bahts," pungkas beliau Hafidzahullahu Ta'ala.

Komentar
Posting Komentar