Langsung ke konten utama

Urutan Kitab-Kitab Pembelajaran Ilmu Aqidah


Suatu malam saya menghadap asy-Syaikh al-Mu’allim Maulana Husam Ramadhan hafidzahullah untuk suatu urusan. Kebetulan saat itu ada beberapa teman dari bangsa Afrika yang sedang konsultasi tentang tahapan mempelajari ilmu-ilmu rasio, karena di antara mereka ada yang ingin masuk jurusan Aqidah dan Filsafat Universitas Al-Azhar.

Di tengah pembicaraan, Syaikh bertanya tentang kitab-kitab dalam ilmu Aqidah yang dipelajari di negara mereka. Lalu disebutkan beberapa, di antaranya Aqidah Thahawiyah. Kemudian beliau bertanya, “Yang mengajar seorang Asy’ari atau bukan?”, kemudian “Iya” jawabnya. “Bagus kalau begitu” respon beliau. Lalu beliau berkata: “Saya akan mensyarah Thahawiyah Insyaallah. Sebagian orang salah dalam memahami isinya, padahal sebetulnya justru sangat bertentangan dengan apa yang mereka katakan.”

“Hanya saja,” lanjut beliau “Thahawiyah bukan kitab pengajaran. Syarah-syarahnya juga bukan. Kitab-kitab pengajaran dalam disiplin ilmu ini adalah pertama Sanusiyat. Tapi yang Kubra bisa diloncati, dan langsung ke tahap berikutnya. Tahap ini bisa juga diisi dengan Kharidah Bahiyah atau Jauharatut Tauhid. Hanya saja Sanusiyat lebih banyak dipakai di lembaga-lembaga keilmuan di dunia."

"Setelah Sanusiyat masuklah ke Thawali’ul Anwar karya Imam Baidhawi beserta syarah Ashfahani. Lalu setelahnya Tahdzibul Kalam karya Sa’duddin Taftazani. Terakhir adalah Mawaqif beserta syarah Sayyid Jurjani tentunya.”

“Dalam tahap pertama, mempelajari Ummul Barahin, Kharidah, atau Jauharah, mungkin para pelajar bisa menjalaninya tanpa ilmu Manthiq. Tapi tidak di tahap berikutnya sampai akhir. Seseorang tidak mungkin bisa faham Thawali', Tahdzib, dan Mawaqif, tanpa terlebih dahulu memperlajari ilmu Manthiq. Tidak bisa juga difahami tanpa ilmu Balaghah, khususnya ilmu Bayan, dan juga tidak akan bisa dipahami tanpa terlebih dahulu mempelajari ilmu Adab Bahts. Tapi ilmu Adab Bahs dipelajarinya setelah Manthiq dan Balaghah.”

Setelah itu perbincangan berganti tema ke Filsafat, sampai mendekati jam 12 malam di ruang mengajar beliau Hafidzahullahu Ta’ala. Di antara isi perbincangan tersebut, beliau menasehati supaya dalam mencari ilmu kita lebih menyibukkan dengan karya-karya para ulama sebelum tahun 1900 M, sebelum masuknya sistem perkuliahan di dunia Islam.

"Jika mau mempelajari Filsafat, maka mulailah dengan Al-Hidayah karya Al-Abahri, pengarang Isaghuji. Itu kitab untuk mubtadi'. Ada beberapa syarah dan hasyiah bagus untuknya. Tapi semuanya susah."

Saya bertanya, "Maulana.. Apakah kita akan mempelajari Filsafat?", "Iya, Insyaallah," jawab beliau. "Tapi setelah Manthiq dan Adab Bahts," pungkas beliau Hafidzahullahu Ta'ala.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

QAIS MERAWAT CINTA GILA, DEMIKIANKAH KITA?

Ada satu kisah gila, yang diperankan oleh orang yang gila pula bernama Qais bin Mulawwih bin Muzahim bin 'Adas bin Rabi'ah bin Ja'dah bin Ka'b bin Rabi'ah. Orang-orang lebih senang menyebutnya "Majnun" yang artinya si gila. Adapun Layla -demikian nama yang paling riskan disebut dalam kegilaan- bernama lengkap Layla binti Mahdi bin Sa'd bin Ka'b bin Rabi'ah, makhluk paling dirawat pemujaannya oleh Majnun, manusia yang tidak pernah mencintai dengan sederhana. Kisah ini menjadi kisah cinta purba yang menginspirasi lahirnya cerita-cerita lain yang tak mau kalah dalam mencinta, sebut saja Romeo-Juliet. Bahkan datang dari sumber lokal, sebuah kisah berlatar belakang kapal menceritakan lika-liku drama tragis kedua tokohnya yang diberi nama Zainuddin-Hayati.  Kisah cinta Qais dan Layla memang tak pernah berakhir bahagia. Tetapi, bukan disitu uniknya. Pada saat derajat sosial memustahilkan kecintaannya, Qais tak pernah melawan takdir. Sejak ...

Tahapan Belajar Fikih Syafi'i

Yang selalu membuat kagum dari guru kami, Habib Abdullah bin Ahmad al-Jufri, beliau begitu tertata rapi dan detil ketika mengkaji ensiklopedia kitab fikih. Wawasannya yang begitu luas nan komprehensif, tak heran jika beberapa Masyayikh menjuluki beliau; "Ifrit"-nya fikih Syafi'i. Kala itu sempat bertanya, "Maulana, kitab apa yang perlu diprioritaskan dalam belajar ilmu fikih madzhab Syafi'i sesuai tahapannya? Serta bagaimana urutannya?" "Ikhlaskan niat Lillahi Ta'ala serta Habibina al-Musthafa..." prolognya. Lalu lanjut beliau, "sebagaimana yang diajarkan guru-guru kami di Hadhramaut, sebagai kitab pembuka adalah : 1) Al-Risalah Al-Jami'ah karya al-Habib Ahmad Alawi al-Habsyi (w. 1144 H). Sebagai pengantar memasuki bahasan fikih. 2) Lalu tanamkan dasar-dasar fikihnya dengan kitab Safinah al-Najah karya Syeikh Salim bin Abdullah bin Sumair. Untuk syarahnya beliau biasa menggunakan kitab Nailu al-Raja' karya al-Habib Ahmad bin Uma...

Seberapa Akurat Metode Barat?

Karena tak sengaja menemukan tulisan Berbahayakah Studi Islam di Barat? oleh Mas Annas Rolli Muchlisin, saya pun tergerak menuliskan kegelisahan ini. Bukan seputar topik utama tulisan itu yang punya kesan ingin mendamaikan beberapa penulis yang berseteru sebulan ini. Namun lebih kepada pembuktian, bahwa studi Islam di Barat yang dibangga-banggakan sebagai penelitian dengan metodologi objektif, sejatinya menyimpan cacat metodologis yang cukup fatal. Ketika menampilkan perbedaan antara menjadi agamawan dengan menjadi peneliti, Mas Annas menampilkan dua contoh hasil kajian barat terkait tafsir dan teologi yang dari alurnya seolah ingin mengatakan, “Inilah hasil kajian Barat. Sangat menarik dan objektif kan? Tanpa harus menjadi agamawan pun, metodologi Barat mampu menghasilkan kesimpulan kajian yang membawa kemajuan pengetahuan bukan?” Pertama , seputar tafsir, ia menulis: “Para peneliti tafsir di Barat menemukan bahwa tafsir al-Kasyaf karya al-Zamakhsyari (w. 1144 M) adalah tafsir yang...