Langsung ke konten utama

Postingan

Perbedaan Istilah Asy'ariyyah (أشعرية) dan Asya'irah (أشاعرة)

Selama ini, kita mungkin menganggap bahwa kedua istilah ini tidak memiliki perbedaan atau dengan kata lain merupakan dua istilah yang berbeda lafadz saja tetapi pemakaiannya sama. Ternyata, ada beberapa ulama yang membedakan penggunaan kedua istilah ini, diantaranya sebagaimana yang terdapat di dalam kitab Dustur al-Ulama' karya 'Abdun Nabi bin 'Abdir Rasul Ahmad al-Nakari, ia berkata : الفرق بين الأشاعرة والأشعريّة أن الأشعرية في مقابلة الماتريديّة وهم الذين تبعوا أبا الحسن الأشعري. والأشاعرة في مقابلة المعتزلة شاملة للماتريديّة والأشعرية. والأشاعرة إذا وقعت في مقابلة الحكماء، فالمراد بها جميع المتكلمين . "Perbedaan antara Asya'irah dan Asy'ariyyah adalah bahwa Asy'ariyyah ditujukan untuk orang-orang yang mengikuti Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan merupakan lawan dari Maturidiyyah (orang-orang yang mengikuti Imam Abu Manshur al-Maturidi). Sedangkan Asya'irah  ditujukan untuk orang-orang yang mengikuti Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari...

Beberapa Kisah Tentang Imam Al-Ghozali Yang Jarang Disebutkan

Ada beberapa kisah fantastis tentang Imam al-Ghazali yang kelihatannya jarang ditemukan dalam buku-buku biografi tentangnya. 1) Kisah tentang dialog Imam al-Ghazali dengan Maha Gurunya yaitu Imam al-Haramain tentang makna faqih . Suatu ketika Imam al-Haramain memerintahkan Imam al-Ghazali untuk membuka pintu kamar yang di dalam kamar tersebut berisi penuh buku-buku. Lalu Imam al-Haramain berkata kepada muridnya tersebut, "aku tidak dipanggil dengan julukan al-faqih kecuali jika aku telah membaca semua buku-buku di dalam kamar ini.". Imam al-Ghazali saat itu juga tertegun. Kemungkinan besar jumlah bacaan Imam al-Ghazali lebih banyak dari seluruh buku-buku yang ada di kamar tersebut. 2) Ketika Imam al-Ghazali melakukan suluk di bawah tarbiyah Imam Yusuf al-Nassaj, ia membawa jerigen air yang terbuat dari kulit sapi dan dipanggul di punggungnya, lalu beliau berputar-putar mengelilingi pasar sembari menawarkan pada setiap orang yang lewat sebagai bentuk riyadhah beliau untuk men...

Hadits Dhaif (dan Palsu) Dalam Kitab Syekh Ibnu Taimiyah dan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab

Jangan terlalu anti pada hadis dhaif sampai-sampai mengatakan haram mengamalkan hadits dhaif lalu mensejajarkannya dengan hadits palsu. Apalagi menuduh mereka yang mengamalkan hadits dhaif dengan tuduhan ahli bid'ah. Berat lho konsekuensinya. Kalau memang hadits dhaif diharamkan, mengapa Imam Ahlus Sunah berikut ini berkenan dengan penggunaan hadits dhaif ? قال أحمد بن حنبل يقول إذا روينا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: في الحلال والحرام شددنا في الأسانيد وإذا روينا عن النبي صلى الله عليه وسلم في فضائل الأعمال ومالا يضع حكماً ولا يرفعه تساهلنا في الأسانيد Ahmad bin Hambal berkata: “Bila kami meriwayatkan dari Nabi tentang hukum halal dan haram, maka kami sangat selektif dalam hal sanad. Jika kami meriwayatkan keutamaan amal dan selain hukum, maka kami tidak selektif." (Thabaqat Hanabilah, 1/171). Atau jangan-jangan kalian mau mengeluarkan Imam Bukhari juga dari Ahlus Sunah wal Jama'ah ya? karena beliau pernah berkata seperti ini :   ﻭﻗﺎﻝ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ: اﺣﻔﻆ ﻣﺌﺔ ﺃﻟﻒ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﻭﻣ...

Qunut Subuh Dalam Madzhab Hambali

Beberapa waktu lalu saya melihat selebaran pamflet yang berisikan beberapa ciri yang menjadikan suatu masjid sebagai masjid sunnah. Salah satu ciri yang disebutkan bahwa masjid sunnah tidak mengamalkan qunut subuh. Itu artinya masjid yang rutin mengamalkan qunut subuh bukanlah masjid sunnah, atau bahasa lainnya masjid yang menyalahi sunnah. Secara tidak langsung, ini mengandung ajakan agar orang-orang tidak shalat di masjid tersebut. Karena rasanya tidak ada muslim yang taat yang mau salat di tempat yang katanya menyalahi sunnah Nabi. Membaca doa qunut dalam shalat subuh sebetulnya adalah permasalahan yang telah selesai dibahas oleh para ulama. Kesimpulannya sama dengan permasalahan khilafiyah lainnya. Ada yang menganggapnya sunnah dan ada yang tidak. Di antara ulama yang tidak menganjurkan qunut subuh adalah ulama mazhab Hambali, pengikut Imam Ahmad. Dalam madzhab Hambali, qunut subuh tidaklah disunnahkan, mereka menegaskan hukumnya makruh. Mereka berpedoman kepada beberapa riwayat ya...

Tahapan Belajar Fikih Syafi'i

Yang selalu membuat kagum dari guru kami, Habib Abdullah bin Ahmad al-Jufri, beliau begitu tertata rapi dan detil ketika mengkaji ensiklopedia kitab fikih. Wawasannya yang begitu luas nan komprehensif, tak heran jika beberapa Masyayikh menjuluki beliau; "Ifrit"-nya fikih Syafi'i. Kala itu sempat bertanya, "Maulana, kitab apa yang perlu diprioritaskan dalam belajar ilmu fikih madzhab Syafi'i sesuai tahapannya? Serta bagaimana urutannya?" "Ikhlaskan niat Lillahi Ta'ala serta Habibina al-Musthafa..." prolognya. Lalu lanjut beliau, "sebagaimana yang diajarkan guru-guru kami di Hadhramaut, sebagai kitab pembuka adalah : 1) Al-Risalah Al-Jami'ah karya al-Habib Ahmad Alawi al-Habsyi (w. 1144 H). Sebagai pengantar memasuki bahasan fikih. 2) Lalu tanamkan dasar-dasar fikihnya dengan kitab Safinah al-Najah karya Syeikh Salim bin Abdullah bin Sumair. Untuk syarahnya beliau biasa menggunakan kitab Nailu al-Raja' karya al-Habib Ahmad bin Uma...

Kapan Kiamat?

Tidak ada yang tau kapan kiamat akan terjadi. Hanya Allah yang tau kapan persisnya. Namun ada sebagian ulama yang mencoba memprediksi kapan kiamat itu akan terjadi. Dialah imam Suyuthi. Dulu di zaman beliau, karena ada sebuah hadits palsu, tersebarlah di kalangan awam bahwa kiamat akan terjadi sebelum tahun 1000 hijriah. Di saat itu adalah tahun 898 hijriah, yang mana kalau isu itu benar maka hanya tersisa 102 tahun lagi menjelang bumi ini hancur lebur. Hal itu cukup membuat gaduh. Maka imam Suyuthi menulis sebuah risalah tentang hal itu dan beliau jelaskan bahwa umur bumi ini pasti akan melampaui tahun 1000 hijriah. Itulah kesimpulan yang beliau peroleh dari berbagai riwayat yang ada. Dan memang kenyataannya tidak terjadi apa-apa di tahun 1000 hijriah. Tapi uniknya, di samping membantah isu kiamat tersebut, beliau juga menegaskan bahwa umur bumi ini tidak akan melampaui tahun 1500 hijriah. “Tidak mungkin sama sekali umur bumi sampai 1500 tahun (semenjak masa nabi)” kata beliau. Sekara...

Mentauhidkan Allah = Mengesakan Allah?

Dalam keadaan seriuskah saya membuat judul di atas? Ya.....bila yang dimaksud dari “mengesakan Allah” adalah “menjadikan-Nya esa” (جعلته واحدا). Hal ini perlu dipertanyakan kembali, apakah benar bahwa makna tauhid adalah menjadikan-Nya esa? karena bila begitu, apakah sebelum kita mengesakan-Nya, Allah belum esa sehingga baru menjadi esa ketika kita esakan? atau apakah Allah butuh dijadikan esa sementara kita tau bahwa ia selalu esa tanpa kita esakan? Banyak sekali dari kita yang menerjemahkan kata “tauhid” menjadi “mengesakan”, tetapi apa sebetulnya yang dimaksud dengan “mengesakan” itu sendiri? Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa disini saya tidak sedang ingin menyalahkan terjemahan kata “tauhid” menjadi “mengesakan”, tidak. Saya hanya ingin berdiskusi dan mengajak kita berpikir kembali apa yang dimaksud dengan “mengesakan”. Setidaknya, ada dua makna yang bisa saya tangkap dari kata “mengesakan” : 1. Menjadikan sesuatu yang jamak menjadi satu (tunggal). 2. Menganggap atau mengakui b...

Filosofi Al-Burhan: Burhan Sebagai Metodologi

Al-Bayan adalah nama bagi konsep yang berurusan dengan konsep. Konsep ditampung oleh kata atau nama, dan bayan atau penjelasan atas nama atau kata itu menjadikan makna kata menjadi mapan. “Keterpahaman” adalah tujuan awalnya, dan “kejernihan” adalah tujuan selanjutnya. Melalui bayan, kata menjadi penampung konsep yang paling kokoh. Kata menjadi terpahami dan terjenihkan dari, -dalam bahasa Al-Ghazali- "wilayah isykal (samar)". Kesamaran adalah lawan dari kejelasan. Al-Syafi’i mengawali kitab al-Risalah-nya dengan konsep al-bayan. Konsep ini berdasarkan pada atribusi Al-Quran atas dirinya sendiri sebagai bayan, penjelasan. Suatu penjelasan dapat dipahami paling tidak oleh orang-orang yang mana Al-Quran turun kepada mereka, atau kepada mereka yang paham bahasa Al-Quran. Suatu penjelasan atas sesuatu, dalam logika, disebut dengan "definisi". Definisi merupakan pembatasan atas sesuatu melalui pernyataan atau proposisi atau statemen. Menyatakan hewan yang berpikir berart...

Logika Teror

Dari lima penjagaan primer yaitu penjagaan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta, mana yang memiliki eksistensi rill? Atau lebih khusus: dari kelima hal itu, mana yang merupakan manusia itu sendiri? Pertanyaan ini harus diajukan sehubungan dengan ontologi teror yang bakal membantu kita untuk menentukan logika teror.  Pertanyaan pertama dapat dijawab dengan mengandaikan suatu keadaan darurat, suatu keadaan yang berada diambang hidup dan mati. Maka ketika pertanyaan itu dilontarkan berdasarkan asumsi keadaan darurat, jawabannya tidak lain: jiwa, atau kehidupan itu sendiri. Agama adalah komunitas terbayang, ia tidak memiliki entitas riil. Akal, keturunan, dan harta adalah bagian dari manusia yang strata keterjagaannya bisa berubah tergantung situasi. Namun jiwa adalah penopang. Jiwa adalah kehidupan itu sendiri yang memungkinkan adanya agama, akal, keturunan, dan harta. Tanpa jiwa, bagaimana mungkin keempatnya bisa dijaga?  Pertanyaan kedua sebenarnya sudah terjawab melalui per...

Optimisme dan Kegentaran di Hadapan Kehendak Tuhan

Dalam ‘Asrar-e Khudi’, Muhammad Iqbal menuliskan : Kau ciptakan malam, tapi kubuat lampu Kau ciptakan lempung, tapi kubentuk cupu Kau ciptakan gurun, hutan dan gunung Kuhasilkan taman, sawah dan kebun Di sini tampak begitu optimisnya manusia-Iqbal. Filsafat Iqbal sering disebut sebagai filsafat ego, atau subjek, atau Dzat. Jangkar yang dilemparkan untuk menambatkan prinsip-prinsip hidup agar tidak terombang-ambing adalah manusia itu sendiri. Tetapi bukan berarti Tuhan itu telah mati (Gott ist tot). Tuhan punya ranahnya sendiri, manusia punya ranahnya sendiri. Tuhan menciptakan sejarah, manusia yang menuliskannya dengan dawat. Tuhan menciptakan alam, manusia merumuskan hukum fisika. Pendek kata: tuhan adalah pelaku, kita juga pelaku. Jika menyinggung perihal siapa pelaku siapa tidak, kita akan merujuk pada disiplin tasawuf yang mengatakan bahwa pelaku yang hakiki adalah Tuhan. Penyematan kata pelaku (al-fail) untuk manusia hanya bermaknya majazi. Entah betul-betul bermakna majazi atau t...

Seni Menggambar(kan) Nabi dengan Benar

Syekh Abdullah Diraz, ulama yang dijuluki filsuf Al-Quran, penulis buku fenomenal Dustur al-Akhlaq fi Al-Qur’an , menulis buku berjudul al-Din . Hal yang menarik dari buku tersebut dan harus selalu diulang dalam konteks arus pemikiran Islam adalah soal perspektif dalam memandang agama. Agama dipelajari oleh dan dari berbagai sisi keilmuan: antropologi, sosiologi, psikologi, filsafat, dan seterusnya. Tetapi lantaran maraknya perangkat analisis itu, agama lupa dikaji berdasarkan agama itu sendiri. Maka tidak mengherankan agama yang dipelajari berdasarkan perangkat eksternalnya itu akan menghasilkan kajian yang terkadang melenceng dari isi agama itu sendiri: agama adalah candu (Marx), agama adalah delusi berjamaah (Freud), dan agama adalah proyeksi masyarakat (Durkhem). Syekh Diraz tidak menampik pentingnya kajian eksternal terhadap agama, karena agama tidak lahir dari ruang hampa. Tetapi Syekh Diraz mewanti-wanti bahayanya kajian-kajian tersebut bagi eksistensi agama itu sendiri. Oleh se...