Syaikh Ibrahim Khuli pernah mengatakan : لا يفسر القرآن إلا من أوتي له البصيرة. والقرآن لا يكون إلا في قلبه ولسانه ووجدانه حتى يصبح القرآن أية واحدة "Tidak akan menafsiri Alquran kecuali orang yang telah diberi bashirah oleh Allah. Alquran telah berada dalam lisan dan sanubarinya seakan-akan keseluruhan Alquran (dalam mata batin sang mufassir tersebut) hanya seperti satu ayat." Imam Fakhruddin al-Razi mengatakan : الفَهْمُ غَيرُ الحِفظِ، والحُكَماءُ يَقولونَ: إنَّهما لا يَجتَمِعان، على سَبيلِ الكَمالِ؛ لِأنَّ الفَهْمَ يَستَدعي مَزيدَ رُطوبةٍ في الدِّماغِ، والحِفظَ يَستَدعي مَزيدَ يُبوسةٍ، والجَمعُ بَينَهما مُـحالٌ "Pemahaman itu bukan hafalan. Para filsuf mengatakan keduanya tidak akan menyatu secara sempurna. Sebab pemahaman memerlukan unsur lembab dalam otak dan hafalan memerlukan unsur yang kering dalam otak. Menggabungkan keduanya (secara sempurna) adalah mustahil." Saya pernah bertanya ke syaikh Husam, apakah ketika seseorang menghafal kitab-kitab...