Langsung ke konten utama

Postingan

Hafalan dan Pemahaman Bergandengan Tangan, Mungkinkah?

Syaikh Ibrahim Khuli pernah mengatakan :  لا يفسر القرآن إلا من أوتي له البصيرة. والقرآن لا يكون إلا في قلبه ولسانه ووجدانه حتى يصبح القرآن أية واحدة "Tidak akan menafsiri Alquran kecuali orang yang telah diberi bashirah oleh Allah. Alquran telah berada dalam lisan dan sanubarinya seakan-akan keseluruhan Alquran (dalam mata batin sang mufassir tersebut) hanya seperti satu ayat." Imam Fakhruddin al-Razi mengatakan :  الفَهْمُ غَيرُ الحِفظِ، والحُكَماءُ يَقولونَ: إنَّهما لا يَجتَمِعان، على سَبيلِ الكَمالِ؛ لِأنَّ الفَهْمَ يَستَدعي مَزيدَ رُطوبةٍ في الدِّماغِ، والحِفظَ يَستَدعي مَزيدَ يُبوسةٍ، والجَمعُ بَينَهما مُـحالٌ "Pemahaman itu bukan hafalan. Para filsuf mengatakan keduanya tidak akan menyatu secara sempurna. Sebab pemahaman memerlukan unsur lembab dalam otak dan hafalan memerlukan unsur yang kering dalam otak. Menggabungkan keduanya (secara sempurna) adalah mustahil." Saya pernah bertanya ke syaikh Husam, apakah ketika seseorang menghafal kitab-kitab...

Habib Muhammad Quraish Shihab dan Biografi Singkat Beliau (Seri Biografi Muhammad Quraish Shihab Part 3 -Selesai-)

Setidaknya ada 3 fase kehidupan yang ditempuh oleh Habib MQS. Fase Pertama :  Pemupukan nilai Alquran oleh ayahanda beliau. Sayyidi Habib MQS sejak umur 6 tahun sudah diikutkan oleh ayah beliau untuk mengikuti kajian tafsirnya. Di umur 10 tahun, kecintaannya terhadap Alquran, khususnya dalam bidang Tafsir sudah melekat dalam hati beliau. Setelah itu, beliau nyantri ke Dar al-Hadist, Malang. Di sana, beliau menemukan guru yang mampu membangun akal dan hati beliau. Syaikh yang futuh, Habib Abdul Qadir Balfaqih. Beliau senantiasa menyanjungnya, bahkan mengatakan bahwa nyantri 2 tahun di Malang lebih membekas dibanding 12 tahun di Mesir. Kenapa? Beliau menjawab: ikhlas. "Kiai-kiai di pesantren itu ikhlas-ikhlas." Ungkap beliau. "Itulah hubungan Jiwa", tambah beliau. Memang beliau sendiri rutin memberi hadiah fatihah kepada guru-guru beliau.  Fase Kedua :  Perjalanan keilmuan di al-Azhar.  هذا هو الأزهر الشريف كعبتنا ● من لم يطف حوله فعلمه بطلا "Inilah ...

Habib Muhammad Quraish Shihab dan Memperdalam Bahasa (Seri Biografi Muhammad Quraish Shihab Part 2)

Setiap menulis surat, ayahanda Habib MQS selalu menutup dengan dua pesan: 1. Bergaullah dengan orang-orang yang engkau mendapatkan ilmu dan manfaat darinya 2. Gunakanlah kesempatan sebanyak mungkin untuk memperdalam bahasa, karena bahasa itu kunci pengetahuan. Mari kita membahas nasehat yang kedua itu; memperdalam bahasa. Pesan itu layaknya sebuah "matan" yang mesti harus disyarah bahkan dihasyiahi.  Redaksi "sebanyak mungkin untuk memperdalam bahasa" adalah sebuah isyarat akan pentingnya menyamudera dalam mempelajari bahasa, khususnya bahasa Arab. Apalagi pesan itu diulang-ulang saban-saban beliau dikirimi surat. Syaikh Ibrahim Khuli mengatakan bahwa 'Takrar' (pengulangan) dalam Alquran tidak terjadi kecuali sebagai penguat dan hal yang menunjukkan keagungan sesuatu yang diperintahkan agar melekat dengan erat. Misalkan pengulangan di : يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ    "Mengapa diulang-ulang?! Kerena hal itu...

Habib Muhammad Quraish Shihab dan Kritis Dalam Membaca (Seri Biografi Muhammad Quraish Shihab Part 1)

"Kapan saja ada waktu, saya membaca. Di mana saja ada tempat, saya menulis. Di Kantor, di pesawat, dan lain-lain." Ungkap singkat Habib MQS mengenai keseharian beliau. "Setelah subuh, saya membaca wiridan sepuluh menit. Setelah itu saya membuat teh (yang kelak menemani beliau dalam menulis). Setelah itu saya menulis sampai jam 8." Saya mengajukan pertanyaaan kepada beliau; bagaimana seorang Habib MQS berinteraksi dengan kitab tafsir, baik itu dari sunni maupun syiah, baik itu kitab tafsir level pemula, level menengah dan level tinggi. Bagaimana beliau berinteraksi dengan kitab-kitab tafsir selama '60 tahun'?  Beliau menjawab : "Pertama: pilih-pilihlah buku yang Anda baca. Karena terlalu banyak buku itu. Salah satu yang perlu dipertimbangkan adalah pengarang. Anda ingin belajar tafsir, tapi yang ngarang bukan pakar di bidang tafsir." "Jangan pernah menilai kebenaran dari orang. Tapi nilailah kebenaran dari ide. Saya mau beri contoh ...

QAIS MERAWAT CINTA GILA, DEMIKIANKAH KITA?

Ada satu kisah gila, yang diperankan oleh orang yang gila pula bernama Qais bin Mulawwih bin Muzahim bin 'Adas bin Rabi'ah bin Ja'dah bin Ka'b bin Rabi'ah. Orang-orang lebih senang menyebutnya "Majnun" yang artinya si gila. Adapun Layla -demikian nama yang paling riskan disebut dalam kegilaan- bernama lengkap Layla binti Mahdi bin Sa'd bin Ka'b bin Rabi'ah, makhluk paling dirawat pemujaannya oleh Majnun, manusia yang tidak pernah mencintai dengan sederhana. Kisah ini menjadi kisah cinta purba yang menginspirasi lahirnya cerita-cerita lain yang tak mau kalah dalam mencinta, sebut saja Romeo-Juliet. Bahkan datang dari sumber lokal, sebuah kisah berlatar belakang kapal menceritakan lika-liku drama tragis kedua tokohnya yang diberi nama Zainuddin-Hayati.  Kisah cinta Qais dan Layla memang tak pernah berakhir bahagia. Tetapi, bukan disitu uniknya. Pada saat derajat sosial memustahilkan kecintaannya, Qais tak pernah melawan takdir. Sejak ...

Faidah Sharfiyah Kata التعالم

At-Taallum dalam ilmu sharf termasuk dalam wazan tafa'ala yatafa'alu tafa'ulan. Bina' wazan ini biasanya menunjukkan makna takalluf dan mua'nah. Takalluf adalah mencari atau menghasilkan sesuatu yang dikejar sedikit demi sedikit, sambil memaksakan diri. Mu'anah, sabar menahan derita kesulitan dalam mengejar cita yang diinginkan. Iya, belajar harus perlahan dan sabar menanggung derita. Sebab ilmu adalah sesuatu yang tinggi dan tak ternilai harganya. al-Alya la tudraku bil Huwaina. *** Isim yang datang dengan wazan فاعِل biasanya jamak taksirnya dengan shigat فُعَّال seperti عامل jamaknya عُمَّال. Wazan ini fi'ilnya seringkali muta'addi, memerlukan kepada objek.  Isim yang datang dengan wazan فَعِيْل biasanya menunjukkan makna sifat yang kokoh, lifestyle, gharizah. Jamaknya biasanya dengan wazan فُعَلاء Seperti شَرِيْف - شُرفاء atau كَرِيْم - كُرَماء. Wazan ini fiilnya selalu lazim, menunjukkan makna sifat yang mendarah-daging.  Kata عَالِم (or...

Silabus Ilmu Ushul Fiqh

Ilmu Ushul Fiqh sendiri sebenarnya memiliki tiga metodologi untuk mempelajarinya, yaitu : 1. Metodologi Mutakallimin 2. Metodologi Fuqoha' 3. Metodologi Hybrid antara keduanya.  Ushul Fiqh dengan metodologi mutakallimin adalah Ushul Fiqh yang banyak dipakai oleh mayoritas ulama Ushuliyyin. Adapun metodologi Fuqoha' lebih banyak dipakai oleh Madzhab Hanafi. Sedangkan metodologi Hybrid, masih ada yang mengingkari bahwa metodologi tersebut ada. Mereka menganggap bahwa metodologi Hybrid ini hanyalah perluasan semata dari metodologi mutakallimin dan bukan sesuatu yang berbeda. Saya sendiri secara pribadi mempelajari Ushul Fiqh dengan metode hybrid ketika belajar di al-Ahqof University Tareem dulu. Kemudian ketika di Jordan saya mempelajari Ushul Fiqh dengan metode Mutakallimin dan menurut saya mempelajari Ushul Fiqh dengan menggunakan metodologi Mutakallimin ini lebih susah daripada metodologi Hybrid. Karena itu, untuk mempelajari ilmu Ushul Fiqh ini saya rekomendasikan ...

Silabus Ilmu Qowaid Fiqhiyyah

Ilmu Qowaid Fiqhiyyah ini adalah Ilmu yang sangat menarik dan penting sekali. Pertama kali saya tahu kepentingan ilmu ini adalah dari murobbi saya, al-Ustaz al-Mufti Abdurahman bin Abdullah Assegaf, beliau banyak mengajari saya tentang Qowaid Fiqhiyah ini, bahkan kadang kala kami berdiskusi di Zawiyah Ba'alawy di atas masjid Ba'lawy. Kadang-kadang beliau juga menyuruh saya untuk membaca kitab-kitab Qowaid karangan Masyaikh Hadromaut yang masih berupa manuskrip seperti Mukhtashor Zarkasy yang dikarang oleh Syekh Muhammad bin Ahmad Bafadhol (تجريد القواعد). Berdasarkan pengalaman saya dalam belajar Qowaid Fiqhiyah ini, seorang pelajar harus menghatamkan minimal satu kitab fiqh terlebih dahulu dari bab ibadah sampai bab I'tiq agar bisa mencerna Qowaid-Qowaid & Furu' yang disebutkan dalam kitab tersebut, karena mungkin satu qoidah bisa mempunyai aplikasi di bab I'badah, Mua'malat & Munakahat dan lain-lain. Adapun silabus yang saya anjurkan untuk ...

Perbedaan Istilah Asy'ariyyah (أشعرية) dan Asya'irah (أشاعرة)

Selama ini, kita mungkin menganggap bahwa kedua istilah ini tidak memiliki perbedaan atau dengan kata lain merupakan dua istilah yang berbeda lafadz saja tetapi pemakaiannya sama. Ternyata, ada beberapa ulama yang membedakan penggunaan kedua istilah ini, diantaranya sebagaimana yang terdapat di dalam kitab Dustur al-Ulama' karya 'Abdun Nabi bin 'Abdir Rasul Ahmad al-Nakari, ia berkata : الفرق بين الأشاعرة والأشعريّة أن الأشعرية في مقابلة الماتريديّة وهم الذين تبعوا أبا الحسن الأشعري. والأشاعرة في مقابلة المعتزلة شاملة للماتريديّة والأشعرية. والأشاعرة إذا وقعت في مقابلة الحكماء، فالمراد بها جميع المتكلمين . "Perbedaan antara Asya'irah dan Asy'ariyyah adalah bahwa Asy'ariyyah ditujukan untuk orang-orang yang mengikuti Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari dan merupakan lawan dari Maturidiyyah (orang-orang yang mengikuti Imam Abu Manshur al-Maturidi). Sedangkan Asya'irah  ditujukan untuk orang-orang yang mengikuti Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari...

Beberapa Kisah Tentang Imam Al-Ghozali Yang Jarang Disebutkan

Ada beberapa kisah fantastis tentang Imam al-Ghazali yang kelihatannya jarang ditemukan dalam buku-buku biografi tentangnya. 1) Kisah tentang dialog Imam al-Ghazali dengan Maha Gurunya yaitu Imam al-Haramain tentang makna faqih . Suatu ketika Imam al-Haramain memerintahkan Imam al-Ghazali untuk membuka pintu kamar yang di dalam kamar tersebut berisi penuh buku-buku. Lalu Imam al-Haramain berkata kepada muridnya tersebut, "aku tidak dipanggil dengan julukan al-faqih kecuali jika aku telah membaca semua buku-buku di dalam kamar ini.". Imam al-Ghazali saat itu juga tertegun. Kemungkinan besar jumlah bacaan Imam al-Ghazali lebih banyak dari seluruh buku-buku yang ada di kamar tersebut. 2) Ketika Imam al-Ghazali melakukan suluk di bawah tarbiyah Imam Yusuf al-Nassaj, ia membawa jerigen air yang terbuat dari kulit sapi dan dipanggul di punggungnya, lalu beliau berputar-putar mengelilingi pasar sembari menawarkan pada setiap orang yang lewat sebagai bentuk riyadhah beliau untuk men...

Hadits Dhaif (dan Palsu) Dalam Kitab Syekh Ibnu Taimiyah dan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab

Jangan terlalu anti pada hadis dhaif sampai-sampai mengatakan haram mengamalkan hadits dhaif lalu mensejajarkannya dengan hadits palsu. Apalagi menuduh mereka yang mengamalkan hadits dhaif dengan tuduhan ahli bid'ah. Berat lho konsekuensinya. Kalau memang hadits dhaif diharamkan, mengapa Imam Ahlus Sunah berikut ini berkenan dengan penggunaan hadits dhaif ? قال أحمد بن حنبل يقول إذا روينا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم: في الحلال والحرام شددنا في الأسانيد وإذا روينا عن النبي صلى الله عليه وسلم في فضائل الأعمال ومالا يضع حكماً ولا يرفعه تساهلنا في الأسانيد Ahmad bin Hambal berkata: “Bila kami meriwayatkan dari Nabi tentang hukum halal dan haram, maka kami sangat selektif dalam hal sanad. Jika kami meriwayatkan keutamaan amal dan selain hukum, maka kami tidak selektif." (Thabaqat Hanabilah, 1/171). Atau jangan-jangan kalian mau mengeluarkan Imam Bukhari juga dari Ahlus Sunah wal Jama'ah ya? karena beliau pernah berkata seperti ini :   ﻭﻗﺎﻝ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ: اﺣﻔﻆ ﻣﺌﺔ ﺃﻟﻒ ﺣﺪﻳﺚ ﺻﺤﻴﺢ ﻭﻣ...